Neraca Perdagangan 2025: Untung dengan AS, Tekor dengan China
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia dengan sejumlah mitra dagang. Selama Januari-Desember 2025, penyumbang surplus perdagangan Indonesia terbesar yaitu Amerika Serikat (AS).
“Tiga negara penyumbang surplus terbesar yaitu AS sebesar US$ 18,11 miliar, India sebesar US$ 13,49 miliar, dan Filipina sebesar US$ 8,42 miliar,” kata Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, saat konferensi pers, di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin (2/1/2026).
Angka surplus ini merupakan selisih dari ekspor nonmigas ke Amerika Serikat sebesar US$30,96, sementara impor nonmigas Indonesia dari Amerika Serikat US$9,84 tercatat sebesar US$ 21,12 miliar. Dari angka tersebut diperoleh surplus pergadangan non migas dengan AS sebesar US$ 18,11.
Surplus dengan AS dihasilkan karena sejumlah komoditas. Ateng menyebut tiga komoditas penyumbang surplus nonmigas yaitu mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, pakaian dan aksesorisnya, dan alas kaki.
Surplus mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya mencapai US$ 5,09 miliar, pakaian dan aksesoris untung US$ 2,81 miliar, dan alas kaki surplus US$ 2,75 miliar.
Sementara itu, menurut Ateng, negara penyumbang defisit terdalam neraca perdagangan Indonesia yaitu China, Australia, dan Singapura. Defisit perdagangan dengan China tercatat sebesar US$ 20,5 miliar, Australia sebesar US$ 5,63 miliar, dan Singapura sebesar US$ 5,47 miliar.
Defisit yang dihasilkan China bagi perdagangan nonmigas yaitu sebesar US$ 22,17 miliar.
Baca Juga
BPS: Neraca Perdagangan Indonesia Surplus US$ 41,05 Miliar Sepanjang 2025
Komoditas penghasil defisit nonmigas dari China yaitu mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya, yang mencapai defisit sebesar US$ 19,47 miliar. Defisit juga terjadi pada komoditas mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya yang mencapai US$ 18,85 miliar. Selain itu, tercatat defisit karena komoditas kendaraan dan bagiannya yang sebesar US$ 4,85 miliar.
Sebelumnya diberitakan, Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$ 41,05 miliar pada Januari-Desember 2025. Angka ini naik US$ 9,72 miliar dibandingkan periode yang sama 2024.
“Kita lihat perbandingannya cukup tinggi. Pada kondisi Januari-Desember 2025, mengalami kenaikan dengan Januari-Desember 2024,” kata Ateng.
Ateng mengatakan surplus tahunan ini ditopang oleh nonmigas sebesar US$ 60,75 miliar pada periode 2025. Sementara itu, komoditas migas masih mengalami defisit sebesar US$ -19, 7 miliar.
Selama periode ini, komoditas penyumbang surplus perdagangan Indonesia yaitu lemak dan minyak hewan/nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta alas kaki.
Sementara itu, penyumbang defisit pada periode ini yaitu serealia, instrumen optik, fotografi, sinematografi, dan medis, plastik dan barang dari plastik, mesin dan perlengkapan elektrik, serta mesin dan peralatan mekanis.

