Kembangkan Metaverse, Zuckerberg Tekor Rp723,6 Triliun
JAKARTA, Investortrust.id – Mark Zuckerbergtelah bertahun-tahun terobsesi bisa mengembangkan proyek Metaverse lewat program Meta Connect yang ia proyeksikan akan menjadi media interaksi sosial terdepan.
"Saya pikir kita akan mencapai titik di mana Anda dengan beberapa teman Anda, dan yang lainnya berada di sana secara digital dalam bentuk avatar atau hologram, dan mereka akan terasa sungguh-sungguh hadir," katanya pada dalam acara tahunan Meta pada September lalu.
Namun berita yang mengemuka dari proyek metaverse milik Meta saat ini adalah meningkatnya kerugian yang harus dialami Zuckerberg.
Baca Juga
Kisah Rebound Facebook jadi Saham Kedua Terbaik di Jajaran S&P 500
Gerakan ke arah terwujudnya metaverse bagi Meta tidak datang tanpa rintangan. Divisi Reality Labs Meta, yang menggabungkan setiap upaya mengembangkan metaverse, dilaporkan Fortune telah merugi sekitar US$46,5 miliar atau setara Rp723,6 triliun sejak tahun 2019. Hal ini diungkapkan perusahaan dalam laporan pendapatan terbarunya.
Kerugian selama periode tersebut cukup besar untuk sebuah perusahaan yang masuk dalam daftar Fortune 100. Angka US$46,5 miliar itu lebih besar dari seluruh pendapatan Best Buy, yang menempati peringkat 94 di Fortune 100. Meta telah kehilangan lebih banyak uang di metaverse, bahkan jika dibandingkan dengan keuntungan yang diraih perusahaanraksasa seperti Bristol-Myers Squibb dan United Airlines.
Namun kerugian di Meta tak lantas mengurangi kekayaan bersih Mark Zuckerberg, mengingat sebagian besar kekayaannya terkait dengan saham Meta. Asal tahu saja, kekayaannya dilaporkan meningkat 130% seiring nilai sahamnya yang terkerek 136,8% tahun ini. Kekayaannya telah naik US$59 miliar sejak awal tahun menjadi US$105 miliar, menjadikannya orang terkaya ke-10 di dunia.
Baca Juga
AP II Kenalkan AeroBuddy sebagai Platform Kecerdasan Buatan di Bandara
Meskipun mengalami rugi besar, Zuckerberg tetap berkomitmen mengembangkan metaverse. "Salah satu pertanyaan paling menarik bagi industri kami dalam beberapa dekade mendatang adalah, bagaimana kita menggabungkan dunia fisik dan digital kita menjadi pengalaman yang konsisten dan baik," katanya dalam paparan pendapatan kuartal III – 2023 Meta.
Kerugian operasional tersebut tidak membuat Meta atau Zuckerberg terkejut. Perusahaan ini telah berulang kali menyatakan bahwa divisi tersebut bertujuan untuk mengembangkan inovasi jangka panjang yang nantinya bisa diintegrasikan ke dalam produk-produk yang lebih umum seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp, yang merea sebut sebagai "keluarga aplikasi."
"Reality Labs sedang bekerja untuk membangun masa depan interaksi online," kata kepala keuangan Meta, Susan Li, dalam paparannya pekan ini, dilansir Fortune.
Meskipun divisi Reality Labs tidak menguntungkan, bisnis keseluruhan Meta tetap menguntungkan. Perusahaan ini memiliki pendapatan sebesar US$95 miliar hingga kuartal III 2023, dan laba sebesar US$30 miliar. Hampir semua, atau 99dari pendapatan Meta berasal dari "keluarga aplikasi" perusahaan.
Meta berhasil mengungguli proyeksi analis di seluruh pasar, melebihi ekspektasi pendapatan, laba per saham, serta pengguna aktif harian dan bulanan.
Saham Meta sendiri turun 6,3% dari US$308,15 menjadi US$288,64 per lembar saham dalam perdagangan Rabu ((25/10/2023) menyusul dirilisnya laporan pendapatan. Namun para analis mengatribusikan penurunan tersebut sebagian besar kepada ketidakpastian mengenai pengeluaran iklan online untuk sisa tahun ini, akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Li juga memberi tahu para investor dalam paparan bahwa Meta memperkirakan kerugian operasional Reality Labs akan lebih tinggi pada akhir tahun ini dibandingkan dengan tahun 2022. Kerugian tersebut terutama disebabkan oleh apa yang dia sebut "biaya langsung," yaitu biaya yang dapat diatribusikan ke produksi produk tertentu, berupa biaya terkait karyawan, biaya operasional, bahan mentah, serta tenaga kerja yang digunakan untuk membuat headset VR (virtual reality)
Tahun ini, Meta merilis dua produk baru dari Reality Labs, yakni Quest 3, sebuah headset VR baru, derta kacamata pintar bermerk Ray BanKedua produk inidiyakini perusahaan akan berperan besar bagi masa depan aplikasi media sosialnya.

