Rupiah Makin Terdesak, Nyaris Sentuh Rp 17.000 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah semakin tertekan oleh dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah terdesak di posisi Rp 16.918 per US$ pada Senin (19/1/2026).
Posisi indeks dolar AS atau DXY sendiri menyentuh 99,12. Indeks dolar AS ini melemah 0,17 poin.
Di tengah pelemahan dolar AS ini, sejumlah mata uang negara mitra dagang Indonesia mengalami penguatan. Yen Jepang menguat 0,12% terhadap dolar AS, ringgit Malaysia menguat tipis 0,01%, dolar Singapura menguat 0,17%, dan baht Thailand menguat 0,52%. Yuan China juga menguat 0,09% terhadap terhadap dolar AS.
Euro Uni Eropa dan poundsterling Britania Raya juga menguat terhadap dolar AS. Euro menguat 0,17% dan poundsterling menguat 0,04%.
Sementara itu, rupee India dan peso Filipina mengalami nasib serupa dengan rupiah. Rupee melemah 0,63% dan peso Filipina melemah 0,09%.
Baca Juga
Rupiah Makin Loyo, Rosan Beri Respons yang Tenangkan Investor
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan pasar mengamati politik AS. Sosok Kevin Hassett, penasihat ekonomi Presiden AS Donald Trump, kemungkinan besar dipertahankan sebagai penasihat ekonomi. Kabar ini dapat menganulir desas-desus yang menyebut Kevin bakal menjadi ketua the Fed.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik ke 4,23% pada Jumat. Ini merupakan level tertinggi dalam lebih dari empat bulan, seiring reaksi investor terhadap meningkatnya dinamika politik terkait the Fed dan penyesuaian kebijakan. Pasar obligasi AS akan tutup pada Senin sehubungan dengan Hari Martin Luther King Jr.
“Laporan penyelidikan pidana yang melibatkan Ketua the Fed, Jerome Powell serta pergeseran tajam di pasar prediksi mengarah kepada Kevin Warsh (mantan gubernur the Fed) sebagai calon pengganti, mengguncang kepercayaan terhadap independensi the Fed,” kata Andry.
Pada Senin ini, Andry memproyeksikan perdagangan rupiah akan bergerak di kisaran harga Rp 16.845-16.930 per US$.

