Rupiah Nyaris Sentuh Rp 17.000 per US$, Menkeu: Investor Spekulasi Thomas Djiwandono ke BI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR mencatat rupiah melemah di posisi Rp 16.935 per US$. Sementara itu, papan data Bloomberg mencatat penutupan rupiah di pasar spot sebesar Rp 16.955 per US$.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan alasan rupiah melemah mendekati Rp 17.000 per US$, salah satunya faktor sentimen yang mengarahkan pasar berspekulasi terhadap pencalonan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Purbaya menyebut muncul spekulasi yang menilai masuknya Thomas dalam bursa Deputi Gubernur BI bakal mengganggu independensi BI.
“Jadi mungkin sebagian spekulasi ketika Thomas ke sana (BI), wah orang spekulasi dia akan independensinya hilang,” ujar Purbaya, di Gedung Nusantara I, DPR, Jakarta, Senin (19/1/2026).
Purbaya sendiri menilai pasar masih menilai positif kinerja fundamental perekonomian Indonesia. Setidaknya jika melihat aliran dana asing yang masuk ke IHSG, yang pada akhirnya bisa mendorong Indeks Harga Saham Gabungan di BEI kembali mencapai all time high (ATH) baru di level 9.133,87.
Baca Juga
Di Balik Pencalonan Deputi Gubernur BI, Muncul Sinyal Tukar Posisi Thomas Djiwandono–Juda Agung
“Pasti flow asing masuk ke situ juga kan? Nggak mungkin domestik sendiri yang bisa mendorong ke level seperti itu. Jadi, tinggal tunggu waktu saja rupiahnya menguat karena suplai dolar akan bertambah,” jelas dia.
Menurut Purbaya, kondisinya tidak seperti yang dipikirkan pasar. Ketika pasar mengetahui pondasi ekonomi Indonesia yang kuat, maka rupiah akan kembali menguat.
Purbaya mengatakan untuk menjaga pondasi ekonomi tetap kuat tersebut yaitu untuk memastikan likuiditas di sistem finansial tercukupi. Selain itu, dia akan memastikan belanja pemerintah dibelanjakan dengan cepat pada awal-awal tahun.
“Kalau likuiditas di sistem cukup kan biasanya recycling jalan kan. Habis itu, kami akan perbaiki iklim investasi dengan debottlenecking,” kata dia.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae, akan terus mengawasi dampak pelemahan rupiah terhadap dolar AS bagi perbankan. Sebab, pelemahan rupiah ini menjadi salah satu risiko yang harus dihadapi.
“Jadi saya kira, itu harus di-assessment individual bank seperti apa. Tentu ada semacam stress [test]-nya di mana masing-masing bank juga akan melakukan itu. Sejauh apa dampaknya, itu rutin biasanya mereka lakukan, di samping kita juga,” kata Dian.

