Airlangga: Kemandirian Pangan Kunci Stabilitas Nasional di Tengah Gejolak Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah menegaskan kembali pentingnya memperkuat kemandirian pangan nasional di tengah meningkatnya tensi geopolitik global. Ketahanan dan keamanan pangan dinilai menjadi fondasi utama agar Indonesia tetap stabil dalam berbagai kondisi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut Indonesia harus memiliki daya tahan kuat menghadapi krisis global. Pengalaman saat pandemi Covid-19 menjadi pelajaran penting ketika banyak negara membatasi ekspor pangan demi kepentingan domestik.
“Indonesia di tengah volatilitas global harus belajar saat krisis Covid-19 pada 2022, kita melihat bagaimana negara melakukan embargo ekspor pangan,” ujar Airlangga di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (13/1/2026).
Baca Juga
Prabowo Akan Selesaikan Negosiasi Tarif dengan AS? Airlangga: Tunggu 'Legal Scrubbing'
Dengan jumlah penduduk 282 juta jiwa, kebutuhan pangan menjadi penopang utama stabilitas nasional. Airlangga menilai kelancaran pasokan pangan berbanding lurus dengan terjaganya aktivitas ekonomi dan industri. “Jadi kalau mangan aman, pabrik aman. Kalau mangan tidak aman, pabrik tidak aman,” tegasnya.
Menurut politisi Partai Golkar itu, prinsip tersebut berlaku dari skala industri hingga nasional.
Ia menekankan beras sebagai pangan utama harus dijaga ketersediaan dan stabilitasnya. “Yang paling penting sego-nya, nasinya mesti aman,” kata Menko Airlangga.
Pemerintah, lanjut Airlangga, menempatkan sektor pertanian dan pangan sebagai prioritas nasional. Presiden Prabowo Subianto secara khusus mendorong penguatan produksi dan ketahanan pangan dalam negeri.
“Alhamdulillah kita pada tahun kemarin produksinya 34,71 juta ton, dan itu salah satu yang tertinggi sepanjang sejarah,” ungkapnya.
Baca Juga
Trump Ancam Naikkan Tarif 25% untuk Mitra Bisnis Iran, Airlangga: Indonesia Tidak Khawatir
Pada saat yang sama, produksi beras meningkat signifikan sebesar 3,52 juta ton.
Di sisi lain, pemerintah mencermati dinamika harga pangan. “Inflasi kita sudah di 6,21% untuk pangan. Nilai tukar petani juga tertinggi sepanjang beberapa tahun terakhir,” pungkas Airlangga seraya menambahkan bahwa kenaikan harga turut mendorong perbaikan kesejahteraan petani.

