Kemenperin: Insinyur Jadi Kunci Reindustrialisasi di Tengah Gejolak Ekonomi Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Alat Transportasi dan Elektronika Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Setia Diarta menyatakan, insinyur Indonesia memiliki peran sangat strategis dalam mendorong reindustrialisasi nasional, khususnya di tengah ketidakpastian global yang semakin kompleks.
Setia menjelaskan, saat ini sektor industri di dalam negeri menghadapi tantangan serius akibat dinamika global, seperti perang dagang AS-China, konflik Rusia-Ukraina, hingga ketegangan Iran-Israel, yang memicu lonjakan harga energi dan bahan baku, serta mengganggu rantai pasok global.
“Tanpa kebijakan yang tepat tentunya produk dalam negeri dapat terdesak oleh barang-barang dari negara lain yang kehilangan akses, terutama ke pasar AS,” ujar Setia Diarta dalam acara seminar nasional “Outlook Industrialisasi Indonesia” yang digelar Persatuan Insinyur Indonesia (PII), di ICE BSD, Tangerang, Sabtu (5/7/2025).
Baca Juga
Ilham Habibie: Tanpa Industri Kuat, Indonesia Tak Akan Jadi Negara Maju
Menurut Setia, tekanan global itu tercermin pada Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang terkontraksi ke angka 46,9 pada Juni 2025. Namun di lain sisi, Indonesia tetap mencatatkan surplus perdagangan terbesar ketiga di dunia, setelah China dan Jerman, yaitu sebesar US$ 4,9 miliar per Mei 2025.
Setia mengungkapkan, kontribusi sektor industri pengolahan nonmigas tetap menjadi tulang punggung ekonomi nasional, menyumbang 79,39% dari total ekspor nasional dan 17,5% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada kuartal I 2025.
Berdasarkan data Bank Dunia mengenai Manufacturing Value Added (MVA), kata Setia, nilai tambah sektor manufaktur nasional pada 2023 mencapai US$ 255,96 miliar. “Angka ini merupakan nilai tertinggi yang pernah dicapai, dan nilai tersebut menempatkan Indonesia di posisi ke-12 negara manufaktur terbesar dunia, dan peringkat ke-5 di Asia,” tutur dia.
Namun, menurut Setia Diarta, pertumbuhan industri manufaktur nasional belum sepenuhnya berdampak pada peningkatan dan pemerataan kesejahteraan. Karena itu diperlukan langkah konkret untuk mendorong penyebaran industri ke seluruh wilayah Indonesia.
“Menghadapi era revolusi industri 4.0, peran insinyur semakin banyak dibutuhkan di berbagai bidang, terlebih bidang teknik industri yang tidak hanya memahami sisi teknikal tapi juga sisi manajemen dari suatu industri,” ucap Setia.
Baca Juga
Indonesia Butuh 100.000 Insinyur Bersertifikat Internasional untuk Dongkrak Daya Saing Industri
Setia Diarta menambahkan,pada era industri 4.0, insinyur juga dituntut memiliki daya saing tinggi untuk bersaing secara global.
Setia juga menekankan pentingnya peningkatan jumlah insinyur yang bersertifikat internasional serta penguatan riset dan inovasi digital.
“Kami terus mengharapkan kolaborasi yang produktif antara pemerintah dengan PII dalam bersama-sama meningkatkan kualitas pembangunan, memperkuat ekonomi nasional, serta memastikan keberlanjutan pembangunan di beragai sektor, terutama sektor industri,” ujar Setia.

