Kemenperin Pacu Alternatif Bahan Kemasan di tengah Gejolak Plastik, Ada Kertas hingga Kaca
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa industri agro nasional, khususnya sektor makanan dan minuman atau Mamin tetap mampu menjaga keberlanjutan produksi di tengah dinamika global yang memengaruhi harga bahan baku plastik.
Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika, pemerintah terus mendorong langkah pengembangan bahan kemasan alternatif guna memperkuat daya saing industri nasional. Menurutnya, hal ini menjadi momentum untuk mendorong industri kemasan ramah lingkungan.
“Industri makanan dan minuman merupakan pengguna produk plastik untuk berbagai kebutuhan kemasan. Kami melihat situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi momentum untuk meningkatkan efisiensi dan mempercepat inovasi kemasan alternatif yang lebih berkelanjutan,” ujar Putu di kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, pelaku industri telah mulai melakukan diversifikasi material kemasan dengan memanfaatkan kertas, kaca, logam, serta bahan plastik hasil daur ulang seperti recycled PET (rPET). Khusus kemasan berbahan dasar kertas, Kemenperin menilai industri pulp dan kertas nasional memiliki fondasi kuat untuk mendukung transformasi kemasan.
Baca Juga
Sebut Stok Plastik Aman, Kemenperin Pastikan Industri Mamin Tak Naikan Harga
Pada 2025, industri ini didukung 113 perusahaan dengan kapasitas produksi pulp mencapai 14,48 juta ton per tahun dan kertas 25,37 juta ton per tahun. Nilai ekspornya mencapai US$ 8,2 miliar, sekaligus menyerap sekitar 1,48 juta tenaga kerja.
“Saat ini kita juga fokus dalam pengembangan aseptic packaging yang banyak digunakan oleh industri makanan dan minuman untuk mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok dingin (cold chain). Ke depan, inovasi seperti barrier paper, paper bottle, nano-cellulose coating dan active paper packaging perlu terus diperkuat melalui riset dan investasi,” kata Putu.
Selain kemasan berbasis kertas, Kemenperin juga mendorong pengembangan bioplastik berbasis bahan hayati seperti singkong dan rumput laut. Sejumlah pelaku industri dalam negeri telah mulai memproduksi kemasan ramah lingkungan berbasis pati singkong maupun seaweed-based packaging. Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri tersebut karena merupakan salah satu produsen utama ubi kayu dan rumput laut dunia.
“Saat ini sudah ada beberapa pelaku usaha bioplastik berbahan baku ubi kayu dan rumput laut. Berdasarkan data SIINas, total kapasitas industri bioplastik berbahan baku ubi kayu sebesar 8 ribu ton per tahun, sedangkan total kapasitas industri bioplastik berbahan baku rumput laut sebesar 28 ton per tahun,” ungkap Putu.

