Lapor ke DPR, BI Ungkap Berhasil Jaga Stabilitas Rupiah di Tengah Gejolak Tarif Trump
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mengungkap komitmennya dalam upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Menurut Gubernur BI, Perry Warjiyo, di tengah adanya gejolak geoekonomi global lantaran kebijakan tarif resiprokal Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, pergerakan nilai tukar rupiah cenderung menguat.
Perry menguraikan, sejak kebijakan tarif Trump diumumkan pada awal April, kurs rupiah sempat anjlok pada level Rp 16.865 per dolar AS per tanggal 8 April 2025. Kemudian ia mengeklaim BI telah melakukan sejumlah intervensi moneter sehingga per 30 Juni 2025 kurs rupiah cenderung menguat ke level Rp 16.235 per dolar AS.
"Kami terus akan memperkuat dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ke depan," lapor Perry saat menyampaikan paparan dalam rapat pembahasan asumsi dasar ekonomi makro APBN 2026 bersama Komisi XI DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/7/2025).
Perry optimistis ke depannya BI dapat terus menjaga nilai tukar rupiah tetap stabil meski kini dihantui oleh tidak hanya dampak tarif Trump, melainkan adanya gejolak Timur Tengah yang turut mempengaruhi geoekonomi global. Bukan tanpa alasan, ia menyebut BI kini mengantongi cadangan devisa (cadev) mencapai US$ 152,5 miliar.
Baca Juga
Didukung Meredanya Ketegangan Geopolitik, Kurs Rupiah Menguat ke Rp 16.209 per Dolar AS Hari Ini
Selain cadev yang ia sebut cukup untuk melakukan intervensi moneter dalam menjaga stabilitas rupiah, Perry pun mengungkap fundamental ekonomi domestik menjadi faktor lain. Ia menyebut setidaknya ada empat faktor fundamental yang mendukung proyeksi nilai tukar rupiah bakal cenderung menguat pada tahun 2026 mendatang.
Faktor-faktor tersebut adalah pertama, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprediksi masih solid. Kemudian yang kedua adalah inflasi yang relatif masih terjaga dalam kisaran dan ketiga yakni imbal hasil dari instrumen investasi dalam negeri yang menarik, termasuk SBN.
Dan faktor keempat, tidak lain adalah komitmen BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Perry mengatakan komitmen tersebut adalah melalui intervensi pada pasar offshore non-delivery forward maupun domestic non-delivery forward (DNDF).
"Secara keseluruhan kami memperkirakan nilai tukar ke depan tahun 2026 reratanya dalam kisaran Rp 16.000 sampai Rp 16.500 per dolar AS," sebut Perry.

