Iran Serang Israel, Perlukah Beli SBN atau Kocok Ulang Portofolio?
JAKARTA, investortrust.id – Seiring dengan tensi geopolitik yang sangat tinggi usai Iran menyerang Israel dan potensi perang di Timur Tengah meluas, langkah seperti apa yang sebaiknya dilakukan investor pasar modal? Apakah kembali ke tabungan konvensional, konversi ke emas, membeli Surat Berharga Negara (SBN), atau opsi lain?
Menurut Direktur Utama Bursa Efek Jakarta (BEJ) periode 1991-1996 Hasan Zein Mahmud, sejumlah penyesuaian bisa dilakukan investor. “Pertama, sekedar berjaga-jaga, saran saya perbesar porsi kas. Kedua, masuk SBN atau reksa dana obligasi, bila harganya turun tajam,” ujarnya di Jakarta, Minggu (14/4/2024).
Baca Juga
Untuk investasi saham juga perlu ‘dikocok ulang’. Investor, lanjut Hasan, bisa memilih saham dengan pembobotan pada defensive stocks. Ini termasuk saham emiten logam, pangan, dan telekomunikasi.
Embargo Logam Rusia
Hasan juga menyoroti langkah Amerika Serikat dan Inggris yang menambah panjang daftar sanksi kepada Rusia. Kali ini, giliran logam yang jadi senjata sekutu. Nikel, baja, dan aluminium - produksi baru - Rusia tidak boleh digunakan untuk menyelesaikan kontrak berjangka di London Metal Exchange (LME), Inggris.
Rusia merupakan salah satu produsen utama dunia untuk ketiga jenis logam tersebut. Rusia diperkirakan memasok sekitar 36% nikel ke LME, 62% baja, dan 90% aluminium.
"Hal ini tak lepas dari Amerika Serikat masih memeluk erat iman pada doktrinnya. Amerika percaya bahwa seantero dunia akan menjadi kapitalis," ucapnya.
Hasan menilai Amerika yakin seluruh dunia akan membeli, mengonsumsi, dan tergantung pada produk budaya kapitalis. Semua negara akan menjadi pelayan dan 'abdi dalem' negara adidaya AS. Yang berusaha membangun negaranya mendekati kedigjayaan AS akan diberangus, dengan segala cara.
"Nah, kita saksikan saja tiga hal. Pertama harga logam-logam itu akankah mengalami lonjakan signifikan? Kedua, siapakah yang lebih menderita, Rusiakah atau LME? Ketiga, masihkah dunia mau menggunakan settlement price LME untuk logam-logam tersebut, sebagai kiblat harga dunia?" tandasnya.
Larangan Penjualan Chip
Sebelumnya, lanjut dia, pada tahun 2019, AS melarang chips produksi AS dan sekutunya untuk dijual ke Cina, yang sedang meluncur untuk menyalip kemajuan teknologi AS. Kerja keras Negeri Tirai Bambu mampu menghasilkan chips-nya sendiri, dengan kecanggihan yang mengungguli kompetitor.
"Kemudian, AS menahan eksekutif Huawei dengan tuduhan melakukan bisnis dengan Iran. UU (undang-undang) AS memang dipaksakan diberlakukan kepada negara lain," paparnya.
Baca Juga
Iran Serang Israel, Cina Serukan Komunitas Internasional Andil Jaga Perdamaian

