Perlukah Danantara Tempatkan Investasi pada Aset 'Kripto'?
JAKARTA, investortrust.id - Dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia saat ini Amerika Serikat (AS) dan China mulai menempatkan investasi di aset kripto. Hal ini terjadi karena aset kripto memiliki potensi untuk membantu resiliensi atau kemampuan beradaptasi meski dalam situasi sulit.
Wakil Ketua Umum Bidang Transformasi Teknologi dan Digital Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Teguh Anantawikrama menngatakan, tak semua orang memiliki kepercayaan terhadap kripto.
Baca Juga
Kadin Indonesia: POJK 27/2024 Jadi Titik Tolak Pertumbuhan Aset Kripto di Indonesia
“Sekarang, itu (kepercayaan) dahulu yang mesti dibangun,” ujar Teguh seusai diskusi "Cryptalk with Triv", yang digelar Investortrust, Selasa (29/4/2025).
Menurut Teguh, kepercayaan terhadap aset kripto perlu dibangun. Tanpa kepercayaan, rencana untuk menjadikan kripto sebagai bagian dari diversifikasi aset tak mungkin terwujud.
Untuk mewujudkan literasi kripto, Teguh menyebut perlunya literasi. “Masalahnya ini kan ada generational gap,” ujar dia.
Baca Juga
Pamor Kripto Melejit, Banyak Transaksi Ekspor-Impor Beralih ke Stablecoin
Kepercayaan itu perlu dibangun dari sisi pemerintah. Hal ini dicontohkan Pemerintah China melalui penerbitan renminbi digital oleh bank sentral negara tersebut. “Renminbi digital itu kan yang menerbitkan pemerintah. Jadi level of trust-nya beda,” kata dia.
Teguh menyarankan, Bank Indonesia (BI) membuat divisi sendiri khusus aset kripto. Selain itu, pemerintah juga perlu membangun ekosistem aset kripto. “Pemerintah harus punya ekosistem, punya regulasi yang lebih jelas. Bukan cuma POJK (Peraturan Otoritas Jasa Keuangan) karena ini kan suatu yang besar,” ucap dia.

