Digitalisasi UMKM Lamban Jadi Penyebab Pertumbuhan Ekonomi di Bawah Target
JAKARTA, investortrust.id - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2023 sebesar 4,94% secara year on year (yoy). Angka itu melambat dibanding kuartal sebelumnya (5,17% yoy) dan masih di bawah target pemerintah untuk tahun 2023 sekitar 5,3%.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani mengatakan, penyebab pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah target salah satunya akibat lambannya digitalisasi pada sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Hal itu disampaikan dalam forum The 10th Annual Indonesia Economic Forum bertema 'Unleashing the Power of Digitalization Across the Nation' di The Habibie & Ainun Library, Jakarta Selatan, Rabu (29/11/2023).
"Menurut saya pertumbuhan kita masih jauh dari angka 7%. Untuk mencapai hal tersebut, semua dunia usaha, semua sektor perlu melakukan digitalisasi dan bergerak menuju reformasi struktural. Kita melihat bahwa masalah terbesar dalam adopsi digitalisasi adalah inklusivitas dan semakin lebarnya kesenjangan dalam adopsi digital bagi kelompok UMKM," katanya.
Baca Juga
Tingkatkan Daya Saing, Telkom Dukung Sertifikasi Halal 497 UMKM
Pertumbuhan yang tidak optimal tersebut, menurut Shinta, mengindikasikan ada masalah. Terlebih sektor UMKM menopang 97% terhadap perekonomian Indonesia dari segi penyerapan tenaga kerja.
Shinta mengatakan pembiayaan teknologi hingga keamanan siber jelas menjadi kendala bagi UKM. Hal itu juga tercermin dari data yang ditemukan Apindo di lapangan.
"Tahu kah anda bahwa 61% pelaku UKM adalah perempuan? Tapi hanya 17 persen dari mereka yang hadir di platform e-niaga. Ini masih menjadi masalah yang sangat besar, apalagi faktor kesuksesan usaha berbasis digital yaitu infrastruktur IT dan sumber daya manusia," tuturnya.
Baca Juga
Dia kemudian memaparkan pemetaan 4 tantangan UMKM dalam mengadopsi alat digital dan teknologi dalam usahanya. Pertama, terbatasnya pengetahuan dan kemampuan literasi serta teknologi dan alat yang dibutuhkan.
Kedua, kurangnya pemahaman tentang kemungkinan penerapan digital bagi bisnis dan manfaatnya. Ketiga terbatasnya anggaran untuk investasi uang pada hardware, software, dan operasionalnya. Keempat seringnya penanganan masalah jaringan dan sinyal.
"Survei kami juga menemukan bahwa dunia usaha terutama UMKM sangat ingin mengadopsi teknologi digital. Saya pikir kita sekarang sedang bergerak menuju pelatihan termasuk digitalisasi. Karena yang penting adalah beralih dari sekadar berbicara tentang pengguna minimal, tetapi lebih mengarah pada peningkatan kapasitas," tuturnya. (CR-14)
Baca Juga
Teten Ungkap Restrukturisasi Kredit Macet UMKM Capai Rp 22,9 T, Ada Syarat untuk Hapus Tagih

