Dana Rp 276 Triliun Masuk Bank, Efek ke Bunga Kredit Masih Terbatas
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Upaya Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menempatkan dana pemerintah di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) belum mampu menurunkan suku bunga kredit perbankan secara signifikan. Kebijakan yang digulirkan sejak September 2025 itu sejauh ini baru berdampak pada penurunan biaya dana perbankan, sementara transmisi ke bunga kredit masih terbatas, meski Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga acuannya secara agresif sepanjang tahun.
Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia (BI) Solikin M. Juhro mengatakan, penempatan dana pemerintah memang memberikan efek langsung pada suku bunga dana perbankan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan dampaknya terhadap suku bunga kredit belum sebanding dengan harapan awal kebijakan tersebut.
“Dampak ke suku bunga dana, sudah pasti ada. Tapi, kalau suku bunga kredit, lihat tadi, fakta berbicara,” kata Solikin saat taklimat media di kantor BI, Jakarta, Senin (22/12/2025).
Baca Juga
Solikin menjelaskan, penempatan dana pemerintah sebesar Rp 276 triliun ke bank milik negara dan bank pembangunan daerah (BPD) membuat kelompok bank tersebut memiliki fleksibilitas pendanaan yang lebih longgar. Kondisi ini berbeda dengan bank-bank di luar kelompok tersebut yang masih menghadapi tekanan dalam menghimpun dana. “Sementara, bank-bank lain cari dana yang susah, (perbankan) di luar Himbara, sehingga di sini memiliki fleksibilitas,” jelas dia.
Meski demikian, Solikin menilai fleksibilitas likuiditas itu perlu diikuti dengan penyesuaian strategi penyaluran kredit. Bank penerima dana pemerintah didorong mengacu pada rencana bisnis bank (RBB) serta memperluas penyaluran kredit melampaui pipeline yang telah ada agar dampak kebijakan dapat lebih terasa ke sektor riil. “Idealnya, bank itu punya RBB, punya pipeline, idealnya kalau kita melihat ke kredit itu di atas atau beyond dari pipeline yang sudah ada,” ujar dia.
Data BI menunjukkan, pada November 2025 suku bunga deposito tenor 1 bulan telah turun 67 basis poin dari 4,81% pada awal 2025 menjadi 4,14%. Penurunan ini menekan biaya dana atau cost of fund bank-bank pelat merah secara signifikan. Namun, pada periode yang sama, suku bunga kredit hanya turun 24 basis poin, dari 9,20% pada awal 2025 menjadi 8,96% per November 2025. Padahal, sepanjang 2025 Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuannya sebesar 125 basis poin. Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Desember 2025, bank sentral terakhir menahan suku bunga acuan di level 4,75%.
Dari sisi likuiditas, penempatan dana pemerintah juga belum terbukti mendorong pertumbuhan uang primer atau M0 secara lebih kuat. M0 adjusted pada November 2025 tercatat sebesar Rp 2.136,2 triliun atau tumbuh 13,3% secara tahunan, melambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang mencapai 14,4% secara tahunan.
Bank Indonesia menjelaskan, perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted sebesar 24,2% secara tahunan, uang kartal sebesar 13,1% secara tahunan, serta giro sektor swasta di BI sebesar 88,8% secara tahunan.
“Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di BI [adjusted] sebesar 24,2% secara tahunan, uang kartal sebesar 13,1% secara tahunan, dan giro sektor swasta di BI sebesar 88,8% secara tahunan,” tulis BI dalam laporan uang beredar atau M2 November 2025, Senin (22/12/2025).
Sementara itu, uang beredar dalam arti luas atau M2 justru tumbuh lebih tinggi. Pada November 2025, M2 tumbuh 8,3% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Oktober 2025 yang sebesar 7,7% secara tahunan. “Sehingga tercatat secara tahunan sebesar Rp 9.891,6 triliun,” bunyi laporan tersebut.
Baca Juga
BI Catat Penyaluran Kredit Perbankan Tumbuh 7,9% pada November 2025
Di tengah perlambatan transmisi kebijakan ke suku bunga kredit, penyaluran kredit perbankan masih menunjukkan tren positif. BI mencatat, total kredit yang disalurkan perbankan pada November 2025 mencapai Rp 8.196,4 triliun atau tumbuh 7,9% secara tahunan, meningkat dibandingkan pertumbuhan Oktober 2025 yang sebesar 7% secara tahunan. “Meningkat dibandingkan pertumbuhan pada Oktober 2025 sebesar 7% secara tahunan,” tulis BI.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menegaskan, dampak penuh penempatan dana pemerintah terhadap likuiditas dan penurunan suku bunga kredit memang membutuhkan waktu. Menurut dia, transmisi kebijakan tersebut baru akan terasa optimal dalam dua hingga tiga bulan sejak dana diinjeksikan.
“Dampak penuh tambahnya likuiditas itu sampai dengan 2-3 bulan sejak uang itu diinjeksikan, baru kita lihat impact penuhnya di Desember-Januari,” ucap Purbaya, bulan lalu.

