Melambat di November 2025, BI Incar Pertumbuhan Uang Primer 'Double Digit'
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menargetkan pertumbuhan uang primer atau M0 sebesar double digit mulai Desember 2025, demi mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Hingga arahnya, mulai Desember hingga setahun ke depan (pertumbuhan uang primer, red) adalah double digit,” kata Perry, saat Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Desember 2025, Rabu (17/12/2025).
Langkah untuk menaikkan pertumbuhan uang primer ini sejalan dengan misi pemerintah dalam hal ini Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di awal saat menjabat. Langkah mendongkrak uang primer dilakukan Purbaya dengan memindahkan saldo pemerintah sebesar Rp 276 triliun ke perbankan milik pemerintah.
Menurut data BI, pertumbuhan uang primer yang adjusted yaitu uang primer yang telah menetralisir dampak Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), tercatat melambat pada November 2025. Pertumbuhan uang primer adjusted menjadi 13,33% secara tahunan dari pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang sebesar 14,38% secara tahunan.
Baca Juga
Perry menjelaskan pelemahan M0 pada November 2025 terjadi karena masih rendahnya penyaluran kredit sehingga mendorong perbankan menempatkan likuiditasnya pada instrumen moneter BI. Pertumbuhan M0 tanpa memperhitungkan dampak penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) bank di BI karena pemberian insentif KLM mencapai 6,46% secara tahunan. Angka ini lebih lambat dari bulan sebelumnya yang sebesar 7,75% secara tahunan.
“Dari komponennya, pertumbuhan M0 yang melambat terutama dipengaruhi oleh berkurangnya penempatan excess reserves bank di BI,” kata dia.
Dalam kesempatan yang sama Perry menyampaikan besarnya peran kredit perbankan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun berdasarkan data dari BI, kredit perbankan pada November 2025 hanya tumbuh 7,74% secara tahunan yang menggambarkan permintaan kredit belum cukup kuat karena pengaruh perilaku wait and see pelaku usaha, optimalisasi pembiayaan internal oleh korporasi, serta penurunan suku bunga kredit yang lambat.
Perilaku wait and see dari pelaku usaha salah satunya bisa tecermin dari besaran undisbursed loan atau pinjaman yang belum direalisasikan, mencapai Rp2.509,4 triliun atau 23,18% dari plafon yang tersedia.
“Undisbursed loan pada November 2025 masih besar yaitu mencapai Rp 2.509,4 triliun atau 23,18% dari plafon kredit yang tersedia,” kata dia.

