Pertumbuhan Uang Primer Tahunan di November 2025 Tertahan di 13,3%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Uang primer atau (M0 adjusted) pada November 2025 tercatat sebesar Rp 2.136,2 triliun atau tumbuh 13,3% secara tahunan. Ini melanjutkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 14,4% secara tahunan.
“Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di BI (adjusted) sebesar 24,2% secara tahunan, uang kartal sebesar 13,1% secara tahunan, dan giro sektor swasta di BI sebesar 88,8% secara tahunan,” tulis Bank Indonesia (BI) dalam laporan uang beredar atau M2 November 2025, Senin (22/12/2025).
Surat berharga yang diterbitkan BI yang dimiliki swasta pada November 2025 tercatat Rp 17,7 triliun. Angka ini terkontraksi sebesar 78,7% secara tahunan setelah pada bulan sebelumnya mengalami kontraksi 79,9% secara tahunan.
Uang beredar atau M2 tumbuh tinggi pada November 2025. Pertumbuhan M2 pada November 2025 sebesar 8,3% lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Oktober 2025 yang sebesar 7,7% secara tahunan.
“Sehingga tercatat secara tahunan sebesar Rp 9.891,6 triliun,” bunyi laporan itu.
Berdasarkan komponennya, perkembangan M2 didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit atau M1 sebesar 11,4% secara tahunan dan uang kuasi sebesar 5,9% secara tahunan.
M1 dengan pangsa 58,1% dari M2, pada November 2025, tercatat sebesar Rp 5.748 triliun. Angka ini tumbuh sebesar 11,4% secara tahunan dibandingkan pertumbuhan pada Oktober 2025 yang sebesar 11% secara tahunan.
Perkembangan M1 terjadi karena tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu dan uang kartal di luar bank umum dan BPS tumbuh masing-masing 7,5% secara tahunan dan 14,6% secara tahunan. Dua komponen ini meningkat dibanding bulan sebelumnya.
Di sisi lain, giro rupiah pada November 2025 tercatat sebesar Rp 2.089,3 triliun atau tumbuh 14,8% secara tahunan. Angka ini melambat jika dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar 15,6% secara tahunan.
Baca Juga
Melambat di November 2025, BI Incar Pertumbuhan Uang Primer 'Double Digit'
Uang kuasi pada November 2025 dengan pangsa 41,4% dari M2 sebesar Rp 4.099,2 triliun atau tumbuh 5,9% secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 5,5% secara tahunan.
Pertumbuhan didorong tumbuhnya tabungan lainnya sebesar 16,6% secara tahunan dan giro valas sebesar 6,4% secara tahunan pada November 2025.
Perkembangan M2 pada November 2025 karena adanya tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan perkembangan penyaluran kredit.
Tagihan bersih sistem moneter kepada pemerintah pusat tumbuh sebesar 8,7% secara tahunan pada November 2025. Penyaluran kredit pada sebesar Rp 8.196,4 triliun atau tumbuh sebesar 7,9%.
Sementara itu, Direktur Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan, Astera Primanto Bhakti memastikan pemerintah tak akan menambah pemindahan dana pemerintah ke perbankan pada akhir tahun ini.
“Tidak ada untuk tahun ini, di akhir tahun ini,” kata Astera, saat konferensi pers APBN KiTa edisi Desember 2025, di kantornya, Jakarta, Kamis (18/12/2025).
Astera mengatakan pemerintah optimis terdapat kenaikan likuiditas pada akhir tahun ini. Untuk itu, pemerintah akan menyimpan uangnya untuk kebutuhan anggaran 2026.
“Jadi kita akan tabung dulu uang kita untuk tahun depan dan nanti kalau misalnya dinamikanya memungkinan, tentunya nanti kita akan bisa gelontorkan lagi ke perbankan,” kata dia.
Baca Juga
Melambat, BI Catat Peredaran Uang Primer (M0) Tumbuh 14,4% YoY pada Oktober 2025
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan penempatan dana pemerintah sebesar Rp 276 triliun ke perbankan umum memperkuat likuiditas sistem keuangan dan menurunkan secara signifikan suku bunga deposito. Ke depan, Purbaya berharap penempatan dana itu diikuti penurunan suku bunga perbankan lebih signifikan dan jumlah uang primer yang beredar akan meningkat.
Purbaya menjelaskan pertumbuhan uang primer sempat naik ke 13% pascapenempatan dana pemerintah ke bank umum. Tetapi, pada 5 Desember 2025, tersisa 5%.
“Tapi saya yakin menjelang minggu-minggu ke depan ini, likuiditas sistem akan bertambah lagi setelah kita koordinasi dengan bank sentral. Jadi mungkin akan double digit lagi,” kata Purbaya.

