Rupiah Menguat Hari Ini, Faktor Ini Jadi Penopang
JAKARTA, investortrust.id — Nilai tukar rupiah mencatat penguatan pada perdagangan Senin sore (6/10/2025), berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), menguat ke posisi Rp 16.598 per dolar AS atau naik 13 poin (0,07%).
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa rupiah sempat berada di bawah tekanan sepanjang perdagangan hari ini. Hal ini dipicu oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat (DXY) yang naik 0,74% ke level 98,44, seiring keyakinan pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) sebesar 25 basis poin pada akhir Oktober 2025.
Baca Juga
Usai ASII, Giliran AUTO Tetapkan Dividen Interim Rp 59 per Saham
Di sisi lain, dinamika politik AS turut menambah ketidakpastian pasar. Para senator belum berhasil meloloskan proposal anggaran, memperpanjang potensi shutdown government hingga pekan depan. “Ketidakpastian seputar penutupan pemerintah AS dan penundaan rilis data ekonomi penting turut memengaruhi pergerakan rupiah,” ujar Ibrahim.
Selain itu, tensi geopolitik global masih tinggi. Ukraina meningkatkan serangan terhadap fasilitas energi Rusia, sementara negara-negara G7 memperketat tekanan ekonomi terhadap Moskow.
Baca Juga
Transformasi Digulirkan, Saham BBKP Berharap Bangkit dari Tekanan
Dari sisi domestik, pemerintah menyoroti lambatnya penyerapan belanja kementerian/lembaga (K/L), meskipun penyaluran anggaran berjalan cepat. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan realisasi anggaran yang perlu diantisipasi menjelang akhir tahun.
Meski demikian, pemerintah tetap optimistis penyerapan belanja dapat meningkat pada kuartal IV-2025 untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
Ibrahim memproyeksikan rupiah berpotensi melemah secara terbatas pada Selasa (7/10/2025). “Rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan potensi melemah di kisaran Rp 16.580 hingga Rp 16.530 per dolar AS,” terangnya.

