Rupiah Melemah 0,18% pada Senin pagi, Kini di Level Rp 16.593 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah mengalami pelemahan pada Senin pagi (6/10/2025). Rupiah melemah -0,18% atau 30 poin menjadi Rp 16.593 per US$.
Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) terjadi ke sejumlah mata uang di kawasan Asia. Dolar AS menguat terhadap yen Jepang sebesar 1,61%, won Korea Selatan sebesar 0,28%, dolar Taiwan sebesar 0,45%, dolar Singapura sebesar 0,21%, dan ringgit Malaysia sebesar 0,04%, serta baht Thailand sebesar 0,05%.
Meski demikian, dolar AS mengalami pelemahan terhadap yuan China sebesar -0,01% dan dolar Hongkong sebesar -0,02%.
Dolar AS terpantau menguat terhadap euro Uni Eropa sebesar 0,13% dan poundsterling Inggris 0,19%.
Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan diperdagangkan secara fluktuatif pada Senin ini. Rentang perdagangan rupiah yaitu Rp 16.520 hingga Rp 16.560 per US$.
Baca Juga
BI: Rupiah Melemah Tipis, Yield SBN Turun, Asing Jual Neto di Pekan Pertama Oktober 2025
Ibrahim mengatakan kondisi ini dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya kekhawatiran pasar terhadap shutdown government AS. Selain itu, data ketenagakerjaan swasta yang lemah pekan ini membuat investor fokus terhadap the Fed yang diproyeksikan akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada akhir Oktober 2025.
“The Fed telah mengutip meningkatkan risiko pasar tenaga kerja sebagai motivator utama pemangkasan suku bunga di September. Tetapi, beberapa pejabat mengemukakan beberapa keraguan mengenai apakah bank sentral perlu memangkas suku bunga lebih lanjut, terutama di tengah inflasi AS yang tinggi,” ujar Ibrahim.
Dari dalam negeri, inflasi Indonesia yang terjaga pada kisaran 2,5% plus minus 1% pada September 2025 menunjukkan konsistensi kebijakan moneter dan sinergi antara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada September yaitu 0,21% secara bulanan dan 2,65% secara tahunan.
“Inflasi diyajini akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5% plus minus 1% pada 2025 dan 2026,” ujar dia.

