Ekspor Nikel Maret 2024 Naik 7,20%
Reporter | Maulana Kautsar Rahmad
Editor |
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut ekspor nikel dan barang dari nikel (HS 75) meningkat pada Maret 2024. Ekspor yang dicatat BPS senilai US$ 0,46 miliar atau naik 7,20% secara bulanan (mom) dibanding Februari 2024 sebesar US$ 0,43 miliar.
“Nilai ekspor nikel dan barang dari nikel yang masuk dalam kategori HS 75 pada bulan Maret 2024 ini mengalami peningkatan dibanding Februari 2024, peningkatan 7,20%,” tutur Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam rilis BPS, di Jakarta, Senin (22/4/2024).
Meski demikian, BPS mencatat terjadi penurunan nilai ekspor secara tahunan yaitu sebesar 16,16%, dibanding Maret 2023 yang sebesar US$ 0,55 miliar.
Penurunan secara tahunan ini karena dampak menurunnya harga nikel di kalangan eksportir. Pada Maret 2023, harga nikel di tingkat eksportir tercatat US$ 6.850 per ton dengan total volume 0,08 miliar kilogram. Sementara pada Maret 2024, harga nikel di tingkat eksportir tercatat US$ 4.050 per ton dengan volume impor mencapai 0,11 miliar kilogram.
Cina Tujuan Ekspor Terbesar
Pada Maret 2024 ini, tiga negara yang menjadi tujuan ekspor terbesar nikel Indonesia yaitu Cina, Jepang, dan Korea Selatan. Cina mengimpor nikel Indonesia senilai US$ 0,36 juta, dengan volume impor sebesar 104,04 juta kilogram.
Sementara itu, nilai ekspor Indonesia pada Maret 2024 tercatat US$ 22,43 miliar, naik 16,4% dibanding kinerja pada Februari 2024. Hal ini ditopang ekspor logam mulia, emas perhiasan, besi dan baja, serta lemak dan minyak hewani/nabati.
"Nilai total ekspor nonmigas naik 17,12% menjadi nilai US$ 21,15 miliar, sedangkan nilai ekspor migas tercatat US$ 1,29 miliar atau naik 5,62%. Peningkatan nilai ekspor Maret secara bulanan didorong ekspor nonmigas, terutama pada logam mulia emas perhiasan dengan andil peningkatan sebesar 4,85%, besi dan baja dengan andil 2,35%, serta lemak dan minyak hewan atau nabati dengan andil 1,71%," kata Amalia.
Dari sisi ekspor migas, lanjut dia, peningkatan terjadi pada komoditas gas dengan andil 0,34%.
"Meski begitu, nilai ekspor Maret 2024 secara tahunan merosot hingga 4,19%. Kontraksi ini lantaran penurunan ekspor nonmigas, terutama pada bahan bakar mineral, besi dan baja, serta lemak dan minyak nabati," imbuhnya.
