Rupiah Ditutup Stabil Jumat (11/7) Jelang Akhir Pekan
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah cenderung bergerak stabil sepanjang perdagangan, Jumat (11/7/2025) atau jelang akhir pekan. Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI), kurs rupiah tergelincir tipis 1 poin ke level Rp 16.221 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sedangkan pada perdagangan pasar spot, data Bloomberg menunjukkan kurs rupiah justru menguat tipis 6 poin (0,04%) ke level Rp 16.218 per dolar AS. Kemarin, Jisdor mencatat kurs rupiah menguat di posisi Rp 16.220 per dolar AS, Kamis (10/7/2025) kemarin.
Baca Juga
IHSG Ditutup Melesat 0,60% hingga 7 Saham Didominasi Pendatang Baru Cetak ARA
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, pergerakan rupiah sepanjang hari ini dipengaruhi langkah investor yang mencermati serangkaian pengumuman tarif perdagangan dari Presiden AS Donald Trump dan bersiap untuk tindakan lebih lanjut. Presiden Trump sebelumnya mengungkapkan bahwa pengenaan tarif 35% untuk impor dari Kanada akan diterapkan mulai 1 Agustus dan terbuka peluang kenaikan tarif, jika Kanada membalas.
Trump mulai mengirimkan surat tarif kepada mitra dagang utama pada hari Senin dan telah mengumumkan bea masuk 25% untuk barang-barang dari Korea Selatan dan Jepang, di antara negara-negara lainnya. Ia telah mengumumkan tarif 50% untuk impor tembaga, efektif 1 Agustus.
Langkah-langkah terbaru Trump juga menampilkan ancaman tarif 10% yang menargetkan negara-negara yang berpihak pada blok BRICS. "Meskipun ancaman tarif baru-baru ini tidak berdampak besar pada pergerakan pasar yang lebih luas, para pedagang tetap berhati-hati tentang tindakan perdagangan di masa mendatang," kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (11/7/2025).
Baca Juga
Bangga! Indonesia Negara ASEAN Pertama yang Jalankan Chip Canggih NVIDIA GV200
Di sisi geopolitik, tanda-tanda deeskalasi perang Israel-Hamas yang belum segera mereda, seiring Yerusalem terus melancarkan serangan terhadap Jalur Gaza, membuat ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap tinggi.
Upaya AS untuk menengahi gencatan senjata tampaknya hanya menghasilkan sedikit kemajuan dalam seminggu terakhir, meskipun Gedung Putih mengklaim bahwa kesepakatan sudah dekat.
Selain itu, di kawasan Eropa Trump telah menyatakan rasa frustrasinya terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin karena kurangnya kemajuan dalam perdamaian dengan Ukraina dan meningkatnya pemboman Rusia terhadap kota-kota Ukraina.

