Menghitung Dampak Kebijakan Tarif Trump setelah 9 Juli
Oleh Arcandra Tahar,
mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
INVESTORTRUST.ID - Pada 9 April 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump akhirnya mengumumkan penundaan kenaikan tarif impor global selama 90 hari, kecuali untuk Tiongkok. Semua tarif timbal balik di atas 10% yang diberlakukan sejak 9 April ditangguhkan, sehingga hanya berlaku tarif dasar 10% untuk sebagian besar negara mitra hingga sekitar 8–9 Juli 2025.
Secara umum, penundaan pemberlakuan tarif ini ditujukan untuk memberi ruang bagi negara-negara mitra dagang Amerika Serikat untuk duduk bersama agar tidak terjadi eskalasi tarif mendadak. Banyak negara yang sudah mencoba bernegosiasi untuk mencari titik temu berapa besaran tarif impor yang wajar. Tapi, sayang negosiasi seperti bertepuk sebelah tangan.
Baca JugaDanantara Bakal Suntik Program 3 Juta Rumah Senilai Rp 130 Triliun
Antisipasi dan Cari Solusi
Dengan situasi ini cukup sulit untuk menduga apa yang akan dilakukan Presiden Trump setelah 9 Juli 2025. Sampai saat ini, tidak ada yang tahu pasti, termasuk para menteri kabinetnya sendiri.
Bisa saja Presiden Trump akan memperpanjang kembali penundaan tarif sampai batas waktu yang belum ditentukan. Inilah salah satu skenario yang mungkin diambil Presiden Trump.
Dibidang energi, kebijakan Presiden Trump ini telah menciptakan era ketidakpastian. Pelaku bisnis migas dan banyak negara dipaksa bukan hanya menduga apa yang akan beliau kerjakan, tetapi juga mempersiapkan diri dengan serangkaian strategi terukur untuk memitigasi resiko kalau Trump melakukan skenario-skenario yang mungkin ditempuh. Tentu saja, jangan sampai larut dalam berbagai analisis, tapi lupa mencari solusinya.
Skenario Penaikan Tarif Dibatalkan
Mencermati perkembangan yang ada, terdapat beberapa skenario yang mungkin terjadi setelah 9 Juli 2025. Pertama, semua kenaikan tarif yang sudah diumumkan dibatalkan. Artinya semua tarif yang sudah berjalan sebelum tanggal 9 April berlaku kembali. Kalau kita lihat dari data yang ada, rata-rata tertimbang dari tarif impor ini sekitar 2,5%.
Dengan skenario itu, kebutuhan gas alam di Eropa akan tetap tinggi sementara di Asia akan semakin naik. Negara-negara penghasil LNG akan berlomba-lomba untuk menaikkan produksi. Pasar yang kelebihan suplai LNG akan mendorong harga turun tapi tidak banyak. Hal ini dikarenakan kebutuhan gas untuk pembangkit listrik di Amerika Utara juga tinggi, terutama untuk mendukung kebutuhan energi bagi data center dan Artificial Inteligence (AI).
Menurut Goldman Sach, pertumbuhan kebutuhan listrik untuk data center dan AI di AS naik sekitar 160% di tahun 2030, dibandingkan tahun 2023. Ini artinya 8% produksi listrik nasional di AS akan terpakai untuk sektor tersebut.
Guna menopang pertumbuhan data center dan AI, Goldman Sach memperkirakan nilai investasi sebesar US$ 50 miliar untuk pembangkit listrik dan US$ 720 miliar untuk infrastruktur transmisi dan grid system. Inilah harapan banyak pihak agar ekonomi AS bisa tetap tumbuh dengan baik.
Di sektor hulu minyak dan gas (migas), kegiatan eksplorasi dan produksi harus tetap digiatkan. Usaha-usaha untuk menaikkan produksi dari lapangan-lapangan yang sudah tua juga harus tetap dilakukan, karena demand yang masih stabil. Di sektor midstream, pembangunan infrastruktur gas harus diperluas karena LNG akan menjadi komoditas penting, tidak saja dalam masa pemerintahan Presiden Trump tapi juga dalam beberapa dekade ke depan.
Menurut US Energy Information Administration, pertumbuhan fasilitas ekpor untuk LNG di AS akan meningkat dua kali lipat di tahun 2028 dibanding tahun 2023. Untuk itu diperlukan investasi sekitar US$ 45-62 miliar.
Skenario Penaikan Tarif Impor 10%
Skenario kedua Presiden Trump menaikkan tarif impor sebesar 10% seperti dalam masa penundaan pemberlakuan tarif baru. Dengan kondisi ini perekonomian AS akan melambat, tapi tidak sampai terjadi resesi.
Hal itu dikarenakan masih ada pertumbuhan yang positif, seperti dari sektor kelistrikan untuk menopang industri data center dan AI. Sementara kondisi yang sedikit berbeda terjadi di Eropa, di mana kebutuhan gas dan LNG akan turun paling tidak sampai tahun 2030.
Apa yang sebaiknya dilakukan sektor hulu migas kalau skenario kedua terjadi? Skenario ini membuat kegiatan eksplorasi dan produksi dalam keadaan waspada, di mana belanja modal harus benar-benar diarahkan kepada usaha yang punya resiko kecil.
Usaha-usaha untuk mempertahankan tingkat produksi dari lapangan-lapangan yang sudah beroperasi harus tetap dilakukan, di tengah demand terhadap minyak akan turun. Tapi negara-negara konsumen yang masih punya cadangan migas -- seperti Indonesia -- harus tetap mendorong eksplorasi.
Penaikan Tarif Maksimum: Peluang Akuisisi?
Skenario ketiga Presiden Trump memberlakukan tarif maksimum seperti yang disampaikan pada tanggal 2 April 2025. Rata-rata tertimbang pengenaan tarif impor ini sekitar 30%.
Kalau ini terjadi, maka AS akan mengalami resesi dan efek dominonya akan merambat ke banyak negara di dunia. Demand gas dan LNG akan turun banyak di Eropa dan Asia, sementara produksi shale gas di AS akan terganggu karena harga minyak turun. Pasalnya, ongkos produksi shale gas dan shale oil cukup mahal.
Baca Juga
Perang Iran-Israel Bikin Harga Minyak Meroket, Indonesia Bersiap Hadapi 3 Dampak Ini
Dengan turunnya permintaan LNG dunia, maka kemungkinan besar akan terjadi banyak pembatalan cargo LNG di tengah suplai di AS juga mengalami gangguan. Inilah saatnya bagi negara yang membutuhkan impor LNG untuk membuat kontrak jangka panjang, dengan cara mengunci harga saat permintaan turun.
Di sektor hulu migas, akan banyak perusahaan minyak yang kesulitan cashflow. Di saat seperti ini, siapa yang punya kelebihan cash akan menjadi raja. Kalau skenario ketiga terjadi, ada peluang untuk membeli aset migas dengan harga diskon.
Perusahaan migas besar akan mencari perusahaan yang kesulitan keuangan untuk diakuisisi. Ini siklus normal di dunia yang menganut paham kapitalis.
Menarik untuk membahas apa yang mesti dilakukan di sektor sumber daya mineral dengan tiga skenario di atas. Lalu, apakah dengan penguasaan mineral strategis oleh Cina dan ketergantungan industri high-tech AS terhadap mineral akan membuat AS berpikir ulang terhadap kenaikan tarif impor ini? Hanya Presiden Trump yang mampu menjawabnya! (pd)

