Citi Indonesia Wanti-wanti Dampak Kebijakan Tarif Trump ke Ekonomi RI
JAKARTA, investortrust.id - Citibank, N.A., Indonesia (Citi Indonesia) menyatakan bahwa kebijakan tarif yang akan diberlakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan berdampak pada perekonomian, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Hal ini diutarakan Chief Economist Citi Indonesia Helmi Arman dalam acara Konferensi Pers Pemaparan Ekonomi dan Kinerja Keuangan Citi Indonesia Tahun 2024 di Hotel Ayana Midplaza Jakarta, Kamis (24/4/2025).
"Dampak kepada perekonomian, sebagai negara dan wilayah perekonomian di dunia, itu akan berupa dampak langsung dan dampak tidak langsung," ujar Helmi.
Helmi menjelaskan, dampak langsungnya adalah berupa potensi penurunan ekspor ke AS akibat melemahnya demand (permintaan) dari AS ataupun akibat dari kehilangan competitiveness (daya saing) dari produk-produk ekspornya yang ke AS jika dibandingkan dengan negara-negara yang terkena tarif lebih rendah.
Diketahui, untuk Indonesia sendiri dikenakan tarif resiprokal sebesar 32%, namun tarif ini masih ditangguhkan selama 90 hari. Kemudian tarif sektoral, AS menerapkan tarif tambahan sebesar 25% dari tarif awal yang sudah berlaku untuk baja, aluminium, otomotif dan komponen otomotif.
Lebih lanjut, Helmi menyebut, dampak tidak langsung dari kebijakan ini yaitu dampak berupa penurunan ekspor ke negara-negara di luar AS akibat melemahnya perekonomian-perekonomian tersebut yang selain AS. Kemudian, juga melemahnya arus investasi atau penanaman modal ke masing-masing negara, dikarenakan terganggunya arus penanaman modal yang terkait dengan ekspansi atau pembangunan global supply chain.
Sejalan dengan hal itu, Helmi membeberkan bahwa berdasarkan simulasi Citi Indonesia, Indonesia terlihat diantara berbagai negara dunia, secara relatif dampaknya lebih moderat dibandingkan dengan negara-negara lain yang memiliki rasio ekspor terhadap PDB yang lebih besar, dan juga rasio FDI atau penanaman modal asing (PMA) terhadap PDB yang lebih besar.
"Salah satu negara yang memiliki rasio ekspor terhadap PDB, dan juga investasi asing terhadap PDB yang paling besar di kawasan kita, di kawasan Asia itu Vietnam, dan kelihatan dari grafik dalam slide ini bahwa Vietnam memang salah satu negara yang berpotensi terkena dampak paling besar. Nah, dari meningkatnya tarif perdagangan ke Amerika Serikat," jelas Helmi.
Namun demikian, Helmi mengatakan, bukan berarti dampaknya bagi Indonesia bisa diabaikan. Terlebih menurut Helmi, bukan rahasia lagi bahwa banyak dari ekspor Indonesia ke Amerika Serikat itu terkait dengan industri-industri yang bersifat padat karya, seperti industri tekstil, industri sepatu, dan industri kulit.
"Dimana kalau digabung industri-industri ini dari sisi ekspornya itu hampir setengahnya bergantung kepada pasar Amerika. Sehingga, apabila terjadi pelemahan demand dari Amerika, akibat dari meningkatnya tarif dan turunnya kepercayaan konsumen atau kepercayaan konsumen di Amerika, tentunya industri-industri padat karya mungkin ini bisa terdampak," jelas Helmi.

