Perang Iran-Israel Bikin Harga Minyak Meroket, Indonesia Bersiap Hadapi 3 Dampak Ini
JAKARTA, investortrust.id - Memanasnya tensi geopolitik Iran dan Israel berpotensi memicu tekanan pada perekonomian dalam negeri. Eskalasi di Timur Tengah membuat harga komoditas global, khususnya minyak bumi meroket dan distribusi akan terganggu. Hal ini membuat Indonesia harus bersiap-siap menghadapi tiga dampak, yakni ancaman inflasi, subsidi membengkak, dan daya beli merosot.
Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilail, konflik di Timur Tengah memicu harga minyak dunia ke level tertinggi. Setelah terjadi konflik, harga minyak mentah Brent melonjak 7% menjadi US$ 74,2 per barel.
Baca Juga
Serang Tel Aviv dan Haifa dengan ‘Metode Baru’, Iran Bobol Pertahanan Israel
“Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak global memiliki dampak langsung pada perekonomian domestik karena posisi negara ini sebagai net importer minyak mentah,” kata Josua, Senin (16/6/2025).
Dengan melonjaknya harga minyak mentah, pemerintah harus menghadapi beban subsidi energi sehingga menekan defisit fiskal. Selain itu, Josua melihat, tingginya harga minyak berisiko terhadap inflasi dan kenaikan biaya produksi.
“Kenaikan inflasi ini dapat menekan daya beli masyarakat dan berimplikasi terhadap perlambatan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia,” jelas dia.
Menurut Josua, untuk mengatasi rambatan konflik, Bank Indonesia (BI) perlu menjaga stabilitas pasar valuta asing dan obligasi melalui intervensi terukur. “Selain itu, komunikasi transparan kepada pasar,” kata dia.
Baca Juga
Konflik Israel-Iran Alihkan Fokus KTT G7, Para Pemimpin Dunia Hadapi Ujian Soliditas
Sementara menurut ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi, perang Israel dan Iran menjadi alarm Indonesia dan negara-negara lain pengimpor minyak mentah. Bagi Indonesia, ujar Karimi, akan muncul pilihan sulit. “Antara menaikkan harga BBM atau menanggung ledakan subsidi yang menggerogoti anggaran pembangunan,” kata Karimi.
Dalam kerangka diplomasi, Karimi menyebut, Indonesia dan negara-negara Selatan dapat mengambil peran. Mereka perlu merumuskan kembali makna perdamaian yang adil, setara, dan menghargai kedaulatan semua bangsa. Termasuk, berhati-hati terhadap dorongan de-eskalasi yang disampaikan G7.

