Kapolri Minta Indonesia Bersiap Hadapi Ancamam Perang Dagang AS dan China
JAKARTA, investortrust.id - Kapolri Listyo Sigit Prabowo buka-bukaan perihal kondisi geopolitik global yang diyakini akan berpengaruh terhadap kondisi dalam negeri. Menurutnya, dunia saat ini dihadapkan dengan ancaman perang dagang negara adidaya, yakni Amerika Serikat (AS) dan China.
Listyo menjelaskan, terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS akan menurunkan eskalasi ketegangan politik, di antaranya konflik Rusia dan Ukraina, termasuk di Timur Tengah. Berbeda dengan Joe Biden, ia menyebut Trump cenderung berorientasi pada visi America First.
Baca Juga
Imbal Hasil Obligasi AS Turun di Tengah Memanasnya ‘Perang Dagang’ AS-China
"Ini tentunya berpengaruh terhadap kondisi ekonomi dunia, utamanya menaikkan ekskalasi antara perang dagang China dan Amerika," katanya saat menyampaikan paparan dalam Munas dan Konbes NU 2025 di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (5/2/2025).
Di tengah ancaman tersebut, Listyo meminta agar Indonesia tetap bersiap dengan segala kemungkinan. Ia mengatakan, Indonesia harus mampu menempatkan diri sekaligus menjalankan posisi kebijakan politik luar negeri bebas aktif.
Bergabung BRICS
Pada kesempatan tersebut, Listyo memberikan analisis posisi Indonesia dalam eskalasi global setelah memutuskan bergabung bersama blok BRICS per 1 Januari 2025. Menurutnya Indonesia dihadapkan pada tantangan menjaga hubungan dagang dan politik dengan AS ke depan.
"BRICS ini oleh Amerika dianggap sebagai poros baru yang akan melakukan upaya untuk melemahkan dolar atau dedolarisai, ini tentunya menjadi masalah," sambungnya.
Baca Juga
Perang Dagang AS-China Memanas, Emas Terus Pecah Rekor Tertinggi
Tantangan lain adalah ancaman AS apabila BRICS tetap nekat melakukan dedolarisasi. Trump kata dia, tidak segan menerapkan tarif 100% terhadap barang-barang impor dari negara-negara anggota poros yang digawangi China dan Russia tersebut. "Sementara di satu sisi Indonesia baru saja masuk, sehingga ini menimbulkan pertanyaan," ujarnya.
Dijelaskan Listyo, meski tergabung dengan BRICS, posisi Indonesia bukan berarti tidak berhubungan dengan AS beserra negara-negara sekutunya. Ia mencontohkan, Indonesia juga tergabung dengan The Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) yang beranggotakan 11 negara-negara maju, termasuk AS. "Jadi bagaimana Indonesia memerankan posisi politik bebas aktifnya sehingga kita tidak terikat konfrontasi dari Amerika dan China," ungkap Listyo.

