Harga Minyak Meroket Akibat Perang AS-Iran, Pemerintah Siapkan Pangkas Subsidi BBM?
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Pemerintah menyiapkan skenario terburuk untuk menjaga stabilitas anggaran negara setelah harga minyak dunia melonjak akibat konflik di Iran. Adapun harga minyak mentah Brent sempat menyentuh US$ 83,49 per barel pada Kamis (5/3/2026), memicu kekhawatiran dampaknya pada defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah telah melakukan simulasi jika harga minyak mentah rata-rata mencapai US$ 92 per barel sepanjang tahun. Dalam kondisi tersebut, defisit APBN berpotensi meningkat signifikan apabila tidak ada kebijakan penyesuaian.
“Kita naik (defisit) ke 3,7% dari PDB (produk domestik bruto). Itu kalau kita enggak ngapa-ngapain,” kata Purbaya di kantornya di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Baca Juga
Pasokan Energi Global Terancam, AS Izinkan India Beli Minyak Rusia 30 Hari
Purbaya menilai Indonesia memiliki pengalaman menghadapi lonjakan harga minyak yang jauh lebih tinggi pada masa lalu. Ia merujuk pada periode ketika harga minyak dunia sempat mencapai kisaran US$ 150 hingga US$ 200 per barel. “Namun, enggak jatuh. Jadi kita punya pengalaman. Kalau emang anggarannya enggak kuat sekali,” ujar dia.
Menurut Purbaya, jika lonjakan harga minyak semakin menekan ruang fiskal, pemerintah kemungkinan harus mengambil langkah berbagi beban dengan masyarakat. Ia tidak menyebut secara eksplisit soal kebijakan subsidi bahan bakar minyak, tetapi mengakui opsi penyesuaian harga BBM dapat muncul dalam kondisi ekstrem.
“Kalau memang anggarannya enggak kuat sekali, enggak ada jalan lain ya kita share dengan masyarakat sebagian. Artinya ada kenaikan BBM, kalau memang (harga) minyaknya tinggi sekali,” kata dia.
Purbaya menjelaskan harga minyak yang sangat tinggi menurut perhitungan pemerintah berada di sekitar US$ 185 per barel. Jika kondisi tersebut terjadi, pemerintah juga akan melakukan penghematan belanja negara.
Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah mengefisiensikan pengeluaran pada sejumlah program. Ia mencontohkan penghematan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menekan belanja yang tidak langsung berkaitan dengan penyediaan makanan bergizi. “Misalnya penghematan MBG,” ujar dia.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri dinilai memiliki tujuan baik untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak-anak. Namun, Purbaya menegaskan pemerintah ingin memastikan setiap anggaran benar-benar digunakan untuk kebutuhan yang mendukung tujuan utama program tersebut.
Ia mencontohkan beberapa pengeluaran yang dinilai tidak berkaitan langsung dengan program tersebut, seperti pembelian sepeda motor dan komputer oleh satuan pelaksana program.
Baca Juga
Pertamina Perkuat Cadangan Energi Lewat Sistem Digital Terintegrasi
Selain skenario lonjakan harga minyak, pemerintah juga menghitung kemungkinan harga minyak berada pada level lebih rendah. Salah satu simulasi yang dilakukan adalah jika harga minyak mentah dunia berada di kisaran US$ 72 per barel.
Dalam kondisi tersebut, Purbaya menilai defisit APBN masih berada pada tingkat yang aman dan dapat dikendalikan. “Masih aman, masih bisa dikendalikan,” ucap dia.
Meski demikian, ia menegaskan pemerintah belum membahas secara khusus mengenai kebijakan penyesuaian harga BBM karena kondisi fiskal saat ini masih cukup stabil. “Belum (dibicarakan). Karena saya bilang, sekarang kita masih aman anggarannya,” kata Purbaya.

