JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat pada perdagangan Kamis (12/06/2026) pagi. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda bergerak terapresiasi 11,5 poin (0,07%) ke level Rp 16.248 per dolar AS.

Penguatan rupiah itu seiring indeks dolar AS (DXY) turun ke 98,7, mendekati level terendah tiga tahun di 98,0 yang terakhir terlihat pada April. Hal ini setelah data inflasi yang lebih lemah dari perkiraan meredam sentimen pasar. 

Harga konsumen AS naik 2,4% year on year pada Mei, naik sedikit dari 2,3% pada April tetapi di bawah perkiraan konsensus sebesar 2,5%. Harga energi turun 3,5% selama setahun terakhir, sementara harga pangan naik 2,9%. Inflasi inti—yang tidak termasuk pangan dan energi—tetap tidak berubah di 2,8%, sedikit di bawah perkiraan 2,9%.

Sebagai responsnya, para pedagang semakin memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 25 bps oleh Federal Reserve pada bulan September. Hal ini dengan kemungkinan penurunan tambahan pada bulan Desember meningkat. "Investor menunggu data inflasi produsen AS terbaru, menyusul laporan inflasi konsumen yang lebih rendah dari perkiraan. Hal ini meredakan tekanan pada Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga," kata Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro dalam keterangan di Jakarta, Kamis pagi.

Baca Juga

Investor Asing Lanjut Net Buy Saham dan SBN


 
Kesepakatan Awal AS-Tiongkok

Di bidang perdagangan, negosiator AS dan Tiongkok mencapai kesepakatan awal selama pembicaraan di London awal minggu ini, meski masih memerlukan persetujuan resmi dari Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping. Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengindikasikan pemerintahan Trump dapat memperpanjang jeda 90 hari pada tarif timbal balik bagi negara-negara yang menunjukkan itikad baik dalam negosiasi perdagangan.

"Pelaku pasar juga mencari kejelasan lebih lanjut tentang negosiasi perdagangan AS–Tiongkok. Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan pembicaraan berjalan 'sangat, sangat baik,' yang menunjukkan diskusi dapat berlanjut hingga Rabu jika perlu," kata Andry.

Baca Juga

Harga Emas Makin "Mengilap" karena Data Inflasi AS