LPEM UI: Ekonomi Kuartal III-2023 Tumbuh 5,07%
JAKARTA, investortrust.id - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) memperkirakan ekonomi kuartal III-2023 yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (06/11/2023) pekan depan, tumbuh 5,07% dalam rentang 5,05-5,09%.
"Pertumbuhan ekonomi kuartal III tahun ini melanjutkan akselerasi pertumbuhan ekonomi sejak kuartal akhir 2022. Namun tidak sekuat pertumbuhan ekonomi kuartal II-2023 yang mencapai 5,17% secara tahunan (year on year/yoy)," kata ekonom makroekonomi dan pasar keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky dalam keterangan resmi yang diterima investortrust.id di Jakarta, Jumat (03/10/2023).
Baca Juga
Menurut Riefky, ekonomi 2023 (setahun penuh) diprediksi tumbuh 5,0-5,1%. Angka itu lebih rendah dari asumsi pertumbuhan ekonomi dalam APBN 2023 yang dipatok 5,3%. Pada kuartal I dan II tahun ini, perekonomian nasional masing-masing tumbuh 5,03% dan 5,17% (yoy).
Riefky menjelaskan, kendati industri manufaktur sebagai penopang utama perekonomian Indonesia tumbuh 4,88% (yoy), tingkat pertumbuhannya masih berada di bawah pertumbuhan ekonomi.
Riefky menambahkan, seluruh komponen pengeluaran, kecuali ekspor dan impor, tumbuh positif, termasuk belanja pemerintah yang mengindikasikan lonjakan pertumbuhan hingga 10,62% (yoy) pada kuartal-II 2023.
Baca Juga
Genjot Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Konsisten Perkuat Sistem Logistik Nasional
Selama paruh pertama tahun ini, kata Teuku Riefky, Indonesia menorehkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang cukup mengesankan. "Tumbuh 5,17% (yoy) pada kuartal II-2023, PDB Indonesia saat ini dalam tren kenaikan yang didorong berbagai faktor musiman," tutur dia.
Pemerintah, menurut Riefky, harus menjaga tingkat keyakinan konsumen, inflasi, dan nilai tukar rupiah guna mengawal pertumbuhan ekonomi jangka pendek di tengah ketidakpastian ekonomi global.
"Ketidakpastian global masih tinggi, terutama yang berasal dari pengetatan moneter The Fed, serta meningkatnya krisis geopolitik, terutama perang Rusia-Ukraina dan Hammas-Israel," tandas dia.
