Mengapa Emas Jadi Pilihan 'Safe Haven' Saat Obligasi Pemerintah AS dan Dolar Dijual?
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas telah melonjak akibat gejolak perdagangan global yang mendorong investor mencari tempat aman. Sementara aset pesaingnya, seperti obligasi Pemerintah AS dan dolar jatuh akibat aksi jual. Hal ini dinilai akibat pergeseran besar kebijakan perdagangan AS di bawah Presiden Donald Trump.
"Emas telah mengisi 'kekosongan” sebagai aset safe haven pilihan pasar," kata Direktur Penelitian Komoditas Pertambangan dan Energi Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar dikutip CNBC, Jumat (25/4/2025).
Baca Juga
Namun uniknya, kata Dhar, dolar dan obligasi Pemerintah AS yang biasanya jadi pelarian aset safe haven justru dijual karena daya tarik kedua instrumen investasi ini telah pudar.
Harga emas mencapai titik tertinggi baru US$ 3.500 per ons pada Selasa (22/4/2025). Sejumlah analis memperkirakan harga emas akan terus meningkat. JP Morgan memoproyeksi logam kuning tersebut akan mencapai US$ 3.675 per ons pada kuartal keempat 2025 dan mencapai US$ 4.000 pada kuartal kedua 2026.
Sebaliknya, obligasi Pemerintah AS mengalami aksi jual dalam beberapa minggu terakhir, dengan imbal hasil obligasi 30 tahun ke level tertinggi sejak November 2023 pada awal bulan ini. Sementara itu, indeks dolar AS merosot 8% sepanjang tahun ini.
Kenaikan imbal hasil Treasury 30 tahun 30 basis poin itu terjadi seminggu setelah Trump mengumumkan tarif timbal balik. Sementara imbal hasil acuan 10 tahun juga melonjak 30 basis poin. Di sisi lain, harga emas telah naik 25% sepanjang tahun ini, menurut data LSEG.
Namun, imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor panjang mulai turun dari level tertinggi dan dolar sedikit menguat karena Trump menarik kembali komentarnya tentang pemecatan Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell.
“Meskipun ini bukan kisah ‘kematian dolar AS’, cukup adil untuk mengatakan bahwa kepercayaan ekonomi AS dan aset utamanya, dolar dan Treasury, telah berkurang,” kata anallis World Gold Council John Reade kepada CNBC.
Mengapa terjadi demam emas
Hubungan yang secara tradisional terbalik antara imbal hasil Treasury dan emas tampaknya telah rusak. Biasanya, ketika imbal hasil tinggi, emas menjadi kurang menarik mengingat besarnya biaya menyimpan emas karena tidak memberikan bunga.
"Kualitas lindung nilai inflasi pada emas menjadikan logam mulia istimewa,” kata Dosen di Sekolah Akuntansi dan Ekonomi Universitas Waikato, Michael Ryan.
Ryan mengatakan, tarif dagang diperkirakan akan meningkatkan inflasi di AS, yang berimplikasi pada suku bunga lebih tinggi. Dampak lebih lanjut akan menekan Departemen Keuangan AS. “Namun, emas secara historis dianggap sebagai lindung nilai inflasi’,” tambahnya.
Faktor lain yang menyebabkan hancurnya hubungan tradisional antara emas dan obligasi Pemerintah AS adalah merosotnya kepercayaan terhadap Amerika dan narasi “keistimewaan AS'". “Ada penurunan kepercayaan terhadap aset-aset AS karena ketidakpastian ekonomi dan geopolitik,” kata analis komoditas di ANZ, Soni Kumari.
Pasar memandang perang tarif Trump sebagai langkah kebijakan yang salah.
“Tidak seperti mata uang atau obligasi pemerintah, emas tidak mengandung risiko kredit dan tidak terikat ekonomi atau politik suatu negara,” kata Alexander Zumpfe, trader logam mulia di Heraeus.
Hal ini relevan saat kepercayaan pada instrumen keuangan tradisional sedang goyah. Daya tarik dolar AS yang semakin memudar semakin menambah daya tarik emas. Dolar yang melemah umumnya membuat komoditas yang dihargakan dalam dolar, termasuk emas, lebih menarik bagi pemegang mata uang lainnya.
Dorongan diversifikasi
Bank-bank sentral dunia di negara berkembang, yang kurang memperhatikan emas dibandingkan bank-bank sentral negara maju, kini beralih ke logam kuning. Mereka ingin melakukan diversifikasi kepemilikan cadangan berbasis dolar.
Baca Juga
Kilau Emas Menuju US$ 4.000 Akibat Ancaman Geopolitik dan Kebijakan Moneter
"Aksi jual dolar memicu diskusi tentang de-dolarisasi global, mempertanyakan daya tarik dolar sebagai mata uang cadangan dunia," kata Kepala Strategi Investasi Bank of Singapore, Eli Lee.
Emas telah beberapa kali diusulkan sebagai mata uang cadangan utama alternatif yang potensial . “Sejumlah negara menyadari bahwa emas merupakan lindung nilai terhadap pembekuan cadangan mata uang AS karena tidak selaras dengan kebijakan AS,” kata Dhar dari CBA.

