Sempat Tembus Rp 17.000/USD di NDF, BI Ungkap Obat Jaga Stabilitas Rupiah
JAKARTA, investortrust.id - Bank Indonesia (BI) mengungkap 'obat' manjur yang digunakan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tidak semakin jebol tembus melewati Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat. Sebelumnya, kurs rupiah sempat anjlok saat momen libur panjang Nyepi hingga Lebaran lalu, menembus Rp 17.006 per dolar AS pada 4 April 2025, berdasarkan perdagangan di pasar luar negeri atau non-deliverable forward (NDF).
Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, obat manjur untuk menjaga stabilitas nilai tukar tersebut adalah dengan penerbitan instrumen moneter pro-market seperti SRBI, SVBI dan SUVBI. Adapun hingga 21 April 2025, total posisi instrumen SRBI, SVBI dan SUVBI masing-masing tercatat sebesar Rp 881,86 triliun, 1,40 miliar dolar AS, dan 277 juta dolar AS.
"Sebagai upaya pendalaman pasar uang dan pasar valas, serta strategi mendorong aliran masuk modal asing ke pasar keuangan dalam negeri, instrumen moneter pro-market SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia), SVBI (Sekuritas Valas Bank Indonesia), dan SUVBI (Sukuk Valas Bank Indonesia) terus dioptimalkan," kata Perry dalam konferensi pers rapat Dewan Gubernur BI secara daring, Rabu (23/04/2025).
Baca Juga
Kepemilikan Asing di SRBI 23,8%
Perry menjelaskan, kepemilikan non-resident dalam SRBI per 21 April 2025 mencapai Rp 209,90 triliun. Ini setara 23,80% dari total outstanding.
Selain itu, ia mengatakan implementasi dealer utama (primary dealer) sejak Mei 2024 makin meningkatkan transaksi SRBI di pasar sekunder dan repurchase agreement (repo) antarpelaku pasar. Hal ini memperkuat efektivitas instrumen moneter dalam stabilisasi nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi.
Ia juga mengeklaim nilai tukar rupiah tetap terkendali, didukung kebijakan stabilisasi BI di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat. Nilai tukar rupiah pada 27 Maret 2025 tercatat Rp 16.560 per dolar AS, atau menguat 0,12% (ptp) dibandingkan dengan level akhir Februari 2025.
"Namun demikian, tekanan kuat terhadap nilai tukar rupiah terjadi di pasar off-shore atau NDF pada saat libur panjang pasar domestik dalam rangka Idulfitri 1446 H, akibat kebijakan tarif resiprositas AS," ujarnya.
Ia menjelaskan, Bank Indonesia pada 7 April 2025 melakukan intervensi di pasar off-shore NDF secara berkesinambungan. Ini baik di di pasar Asia, Eropa, dan New York, guna stabilisasi nilai tukar rupiah dari tingginya tekanan global.
Menurutnya, respons kebijakan ini memberikan hasil positif. Hal itu tecermin dari perkembangan rupiah yang terkendali dan menguat menjadi Rp 16.855 per dolar AS pada 22 April 2025, dibandingkan level Rp16.865 per dolar AS pada hari pertama pembukaan pasar domestik pascalibur tanggal 8 April 2025.
"Pergerakan rupiah masih sejalan dengan perkembangan mata uang regional. Selain itu, berada dalam kisaran yang sesuai dengan fundamental ekonomi domestik dalam menjaga stabilitas perekonomian," tandasnya.
Baca Juga
Tembus Rp 17.500/US$?
Pada kesempatan terpisah, Presiden Komisaris HFX International Berjanga Sutopo Widodo memprediksi nilai tukar rupiah bakal diperdagangkan pada level Rp 17.000 per dolar AS hingga akhir kuartal ini. Bahkan, ia memperkirakan nilai tukar rupiah akan menembus sekitar Rp 17.500 per dolar AS pada akhir tahun ini.
Sutopo mengatakan, meski dolar AS menunjukkan pelemahan terhadap mata uang utama dunia, nilai tukar rupiah tetap berpotensi melemah. "Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Ini antara lain kondisi ekonomi domestik, sentimen pasar global, minat risiko yang berubah-ubah, serta sikap kebijakan moneter yang relatif dan persepsi pasar," katanya ketika dihubungi Investortrust, Rabu (23/04/2025).

