Banyak Pasien Anggap Obat Mahal Makin Manjur, Dokter: Obat Bukan seperti Beli Rumah dan Mobil
MAKASSAR, investortrust.id - Praktisi Medis dari Yayasan Orangtua Peduli (YOP) Windhi Kresnawati menyebutkan, banyak masyarakat yang menganggap kalau membeli atau mengonsumsi obat berdasarkan tingkat kemahalan harga, maka akan semakin ampuh atau mujarab untuk kecepatan proses penyembuhan.
Hal tersebut diungkapkan Windhi dalam diskusi Investortrust Powertalk yang bertema ‘Upaya Publik Tekan Overtreatment & Fraud di Layanan Medis’ yang digelar di Hotel Four Points by Sheraton Makassar, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (11/9/2024).
"Tapi pasien saya bilang gini, yang diketahui masyarakat makin mahal makin cespleng. Makin cespleng makin bagus. Tidak seperti beli rumah sama mobil, kalau obat," ucap Windhi.
Baca Juga
Praktisi Medis: Kolaborasi Berbagai Pihak Dibutuhkan untuk Tekan Praktik “Nakal” Overtreatment
Windhi pun memberikan sejumlah pengobatan untuk beberapa penyakit yang seharusnya tidak memerlukan resep obat banyak, dan bahkan pengobatannya bisa hanya berupa konsultasi dari dokter. Misalnya, untuk batuk pilek serta juga diare tanpa darah.
"Pedoman WHO untuk batuk pilek terapinya enggak boleh dikasih antibiotik, obat batuk pengencer dahak, obat-obatan yang segala macam, dan obat batuk yang paling ampuh adalah air putih," terangnya.
"Yang kedua adalah diare. Diare obatnya oralit 500 perak. Kalau pasien saya naik Alphard, mereka lebih senang beli probiotik yang satu kali Rp 15.000, makin mahal makin merasa pasti gue cepet sembuh," tambah Windhi.
Baca Juga
Dokter Ungkap Cara Agar Terhindar dari Praktik Overtreatment Rumah Sakit
Oleh sebab itu, Windhi menegaskan, kecerdasan dari pasien bisa menekan terjadinya pelayanan kesehatan berlebihan atau overtreatment di rumah sakit. Sehingga, masyarakat bisa memahami yang terpenting adalah kandungan obat itu sendiri, dan bukan berdasarkan harganya.
"Kita membuat pasien lebih cerdas, melihat safety sama cost, maka kita bisa menekan overtreatment. Jadi fokusnya sudah bukan di harga lagi tapi di safety-nya aman enggak saya minum obat Rp 200.000 ketika itu tidak diperlukan," tandasnya.

