Dokter Senior Ini Sebut Pemberian Obat ke Pasien Harus Pertimbangkan 'Risk-Benefit', Apa itu?
MEDAN, investortrust.id- Praktisi medis dan motivator hidup sehat dr Handrawan Nadesul menyampaikan bahwa dalam pemberian obat ke pasien, sejatinya para dokter termasuk pasien harus mempertimbangkan risk-benefit asupan obat tersebut bagi pasien.
Menurut Handrawan, sudah seharusnya pasien memahami lebih dalam, mana lebih besar antara risiko dan manfaat dari sebuah metode pengobatan. Sehingga, ketika risiko atau mudharatnya lebih banyak, maka obat tersebut tidak akan diberikan, atau layak untuk ditolak oleh pasien.
Suasana diskusi Investortrust Power Talk yang digelar secara hybrid, bertema “Menyiasati Overtreatment pada Layanan Kesehatan” yang digelar di Hotel Aryaduta Medan, Sumatera Utara, Kamis (22/8/2024). Foto: Investortrust
Hal itu diungkapkan Handrawan dalam diskusi Investortrust Power Talk yang digelar secara hybrid, bertema “Menyiasati Overtreatment pada Layanan Kesehatan” yang digelar di Hotel Aryaduta, Medan, Sumatera Utara, Kamis (22/8/2024).
"Orang mau flu, pusing, lemas, tidur saja. Nggak usah minum obat flu walaupun obat warung. Karena risikonya, efek samping dari obat warung itu pasti ada pada badan. Kalau dibawa tidur sembuh, obatnya tidur, pemberian obat jadi salah. Jadi, dari penyakit ringan sampai berat pun, risk-benefit, mudharat, maslahat tetap ada," ujar Handrawan.
Lebih lanjut, Hendrawan pun sempat menceritakan dirinya yang sering ditanya oleh pasien atau masyarakat yang divonis untuk mengonsumsi obat seumur hidup.
"Apa nggak berbahaya dok (mengonsumsi obat seumur hidup)? Risk-benefit. Kalau orang kencing manis, hipertensi tanpa obat, tanpa terkendali, obat terpaksa diminum seumur hidup, kalau tidak diminum risikonya dia mati, risikonya dia komplikasi, itu pertimbangannya," ungkap Handrawan. Artinya, menurut Handrawan, pemberian obat tersebut dengan memperhitungkan risiko dan keuntungan yang bisa didapat oleh pasien. Risiko yang bakal dirasakan pasien tentu akan ada residu obat yang menumpuk di tubuhnya jika ia terus mengkonsumsi obat. Namun ada benefit terbesar yang bisa dirasakan pasien, yakni ia akan tetap atau bisa bertahan hidup dengan obat tersebut.
Praktisi medis dari Yayasan Orangtua Peduli (YOP), dr. Rini, MARS (kiri), Managing Editor Investortrust.id Fajar Widhiyanto, serta motivator hidup sehat dr Handrawan Nadesul berfoto bersama di penghujung acara diskusi Investortrust Power Talk yang digelar secara hybrid, bertema “Menyiasati Overtreatment pada Layanan Kesehatan” yang digelar di Hotel Aryaduta Medan, Sumatera Utara, Kamis (22/8/2024). Foto: Investortrust
Ditekankan Handrawan, pada dasarnya masyarakat harus cerdas dan memahami setiap asupan obat yang diberikan oleh dokter. Termasuk mampu memperhitungakan risk dan benefit dari obat yang ia terima lewat resep dokter. Pemahaman yang lebih baik soal layanan kesehatan, menurut Handrawan akan mempersempit competency gap antara dokter dan pasiennya. Masyarakat pun mempunyai hak untuk bertanya kepada dokter soal penyakit atau tindakan medis yang akan diterimanya.
"Masyarakat punya hak untuk bertanya. Dari dulu saya berpikir bagaimana caranya supaya masyarakat ini tidak dibodohi, mohon maaf teman-teman sejawat dokter, saya harus sampaikan ini," jelas Handrawan.
Hendrawan mengatakan, jika tidak ada indikasi medis, pasien dapat menolak asupan obat dan tindakan medis yang direkomendasikan dokter. Langkah ini setidaknya bisa mencegah terjadinya insufficient service di layanan kesehatan.
"Boleh bertanya tentang obat yang diresepkan, untuk apa obatnya, apa semua perlu obatnya, mana yang boleh tidak dihabiskan. Ada bahaya dari polypharmacy. Tidak semua penyakit perlu masuk rumah sakit," kata Handrawan.