Kurs Rupiah Menguat usai BI Umumkan Utang RI Turun
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam penutupan perdagangan valas Kamis (17/4/2025), hari ini. Data Jisdor Bank Indonesia (BI) menunjukkan kurs rupiah menguat 12 poin (0,07%) ke level Rp 16.833 per dolar AS, berbalik dari sebelumnya yang melemah di posisi Rp 16.845 per dolar AS kemarin.
Pada perdagangan di pasar spot, nilai tukar rupiah rupiah bergerak cenderung stabil terhadap dolar AS. Berdasarkan data Yahoo Finance, kurs rupiah tergelincir tipis 1 poin (0,01%) ke level Rp 16.820 per dolar AS.
Menguatnya kurs rupiah terhadap dolar AS bertepatan dengan BI mengumumkan utang luar negeri (ULN) Indonesia menurun. BI mengumumkan posisi Utang Luar Negeri Indonesia pada Februari 2025 menurun.
Pada Februari 2025 posisi ULN Indonesia tercatat sebesar US$ 427,2 miliar, menurun dibandingkan pada Januari 2025 sebesar US$ 427,9 miliar. "Secara tahunan, ULN Indonesia tumbuh 4,7% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan 5,3% pada Januari 2025," papar Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan di Jakarta, Kamis (17/04/2025).
Baca JugaMenkeu Bertemu Dubes AS, Mirae Proyeksikan IHSG Rebound 6.600
Penguatan Dolar
Menurut Ramdan Denny Prakoso, perkembangan tersebut berasal dari perlambatan pertumbuhan ULN sektor publik dan kontraksi pertumbuhan ULN sektor swasta. Posisi ULN Februari 2025 juga dipengaruhi oleh faktor penguatan mata uang dolar AS terhadap mayoritas mata uang global, termasuk rupiah.
BI mengeklaim struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. Hal ini tecermin dari penurunan rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) menjadi 30,2% pada Februari 2025, dari 30,3% pada Januari 2025, serta dominasi ULN jangka panjang dengan pangsa 84,7% dari total ULN.
"Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," tutur Ramdan Denny.
Sementara itu dari sentimen global, pemerintahan Presiden AS Donald Trump mengeluarkan sanksi baru yang menargetkan ekspor minyak Iran pada hari Rabu, termasuk terhadap kilang minyak "teapot" yang berbasis di China. Ini meningkatkan tekanan terhadap Teheran di tengah pembicaraan mengenai meningkatnya program nuklir negara tersebut.
Baca Juga
Secara bersamaan, Presiden AS Donald Trump mengatakan kemajuan besar telah dicapai selama pertemuan dengan delegasi perdagangan Jepang di Washington pada hari Rabu. Kedua negara membuka pembicaraan yang bertujuan untuk menyelesaikan ketegangan atas gelombang penaikan tarif tinggi AS.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, pembicaraan tersebut menandai dimulainya negosiasi formal untuk mencapai kesepakatan perdagangan bilateral di tengah meningkatnya kekhawatiran atas dampak ekonomi dari tarif baru AS. Selain itu, laporan Bloomberg pada hari Rabu menunjukkan bahwa Tiongkok terbuka untuk memulai pembicaraan perdagangan dengan pemerintahan Trump, tetapi menuntut agar Gedung Putih menunjukkan lebih banyak rasa hormat.
"Perkembangan ini meredakan beberapa kekhawatiran, meski investor masih tetap waspada," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Kamis (17/04/2025).

