Kurs Rupiah Ditutup Menguat usai BI Umumkan Utang Luar Negeri
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat pada penutupan perdagangan Senin (14/10/2024). Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat kurs mata uang Garuda menguat 28 poin ke level Rp 15.581/USD, dibanding posisi Rp 15.609/USD pada Jumat lalu.
Di pasar spot valas, dilansir Yahoo Finance, kurs rupiah juga bergerak cenderung menguat terhadap dolar AS. Hingga pukul 15.45 WIB, kurs rupiah menguat 19 poin (0,12%) ke level RP 15.555/USD. Sebelumnya, kurs rupiah terhadap greenback ditutup di posisi Rp 15.574/USD pada perdagangan terakhir pekan lalu.
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia (BCA) Tbk David Sumual menilai, pasar cenderung melihat The Fed tidak akan agresif lagi dalam kebijakan menurunkan suku bunga acuan AS ke depan. Hal tersebut lantaran solidnya rilis data fundamental perekonomian AS baru-baru ini.
"The Fed mungkin tidak akan seagresif perkiraan dalam menurunkan suku bunganya ke depan. Data ekonomi AS masih cukup kuat, tercermin dari data non-farm payroll yang berada di atas perkiraan," kata David kepada Investortrust, Jakarta, Senin (14/10/2024).
Baca Juga
Utang Luar Negeri Indonesia Naik 7,3% dan Lelang SRBI Raup Rp 18 Triliun, Kurs Rupiah Tetap
Utang Luar Negeri Naik
Sementara dari dalam negeri, BI melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia per Agustus 2024 mencapai US$ 425,1 miliar, tumbuh 7,3% secara tahunan (year on year/yoy). Posisi ULN Agustus 2024 juga dipengaruhi oleh faktor pelemahan mata uang dolar AS terhadap mayoritas mata uang global, termasuk rupiah.
Posisi ULN pemerintah pada Agustus 2024 tercatat sebesar US$ 200,4 miliar atau tumbuh 4,6% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan pada Juli 2024 sebesar 0,6% (yoy). Perkembangan ULN tersebut terutama dipengaruhi oleh peningkatan aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) domestik, seiring dengan semakin terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.
Baca Juga
Cek, Siapa Terima Insentif dalam Regulasi Baru Pengguna Gas Bumi Murah?
Sementara itu, swasta memiliki utang sebesar US$197,8 miliar atau tumbuh sebesar 1,3% (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Juli 2024 sebesar 0,5% (yoy). Perkembangan ULN tersebut terutama didorong oleh ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations), yang mencatatkan pertumbuhan 1,6% (yoy).

