JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah kembali menguat dalam penutupan perdagangan sore ini, Kamis (07/03/2024). Mata uang Garuda ditutup menguat 50 poin ke level Rp 15.654 per dolar AS, dibanding penutupan sebelumnya Rp 15.705 per dolar AS.
 
Hari ini, Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa pada akhir Februari 2024, yang dinilai tetap pada posisi yang tinggi. Meski nilainya turun dari Januari 2024, namun sesuai ekspektasi para analis.
 
"Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2024 tetap tinggi sebesar 144,0 miliar dolar AS, meski menurun dibandingkan posisi pada akhir Januari 2024 sebesar 145,1 miliar dolar AS. Penurunan posisi cadangan devisa tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah," kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan pada Kamis (07/03/204).
 
Penurunan cadangan devisa ini juga dipengaruhi oleh potensi menyusutnya neraca perdagangan Indonesia, seiring berlanjutnya pelemahan permintaan global. Selain itu, dikarenakan jatuh temponya salah satu obligasi valas, RI0224, pada pertengahan Februari lalu. Tercatat, total nilai obligasi ini sebesar 474 juta dolar AS. 
 
 
Sementara itu, pengamat rupiah Ibrahim Assuaibi menyoroti pernyataan Gubernur Bank Sentral Ameriks Serikat Jerome Powell yang mengatakan niat The Fed menurunkan suku bunga pada tahun 2024. Hal itu sebuah skenario yang menjadi pertanda baik bagi aset-aset yang tidak memberikan imbal hasil. 
 
"Namun, Powell masih memberikan petunjuk mengenai waktu dan skala pemotongan yang direncanakan, dengan menyatakan bahwa jalur perekonomian dan inflasi AS kemungkinan besar akan menentukan pelonggaran moneter. Gubernur The Fed juga mengatakan bahwa bank sentral perlu lebih diyakinkan bahwa inflasi mendekati target tahunan 2%," ungkap Ibrahim, dikutip Kamis (07/03/2024).
 

Baca Juga

Bank Sentral India dan BI Tandatangani Kesepahaman Dorong Gunakan Uang Lokal


Kemudian untuk pasar Asia, Ibrahim menyorot ihwal Cina yang mencatatkan neraca perdagangan lebih besar dari perkiraan pada dua bulan pertama tahun 2024, dengan ekspor dan impor yang lebih kuat. Kondisi ini menandakan adanya pemulihan pada bisnis-bisnis yang banyak melakukan perdagangan di Negeri Tirai Bambu tersebut.