Kurs Rupiah Merosot, Analis Ungkap Posisi Cadev dan Geopolitik Global Jadi Penyebab
JAKARTA, investortrust.id - Mata uang rupiah terus merosot dalam perdagangan nilai tukar (kurs) terhadap indeks dolar Amerika Serikat (AS). Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat, kurs rupiah ditutup melemah 185 poin ke level Rp 15.680/USD pada Senin (7/10/2024). Diketahui pada perdagangan sebelumnya (4/10/2024), kurs rupiah ditutup pada posisi Rp 15.495/USD.
Sementara pada perdagangan spot valas, dilansir Yahoo Finance hingga pukul 15.45 WIB, kurs rupiah merosot 196 poin (1,27%) terhadap greenback ke level Rp 15.675/USD. Pada perdagangan sebelumnya, Yahoo Finance merilis mata uang Garuda melemah untuk bertengger di posisi Rp 15.479/USD.
Analis PT Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin mengungkap, posisi cadangan devisa (cadev) pada September ini yang melemah daripada sebelumnya, menjadi salah satu sentimen atau penyebab merosotnya mata uang rupiah sepanjang hari ini. Adapun BI telah mengumumkan posisi cadev per akhir September 2024 sebesar US$ 149,3 miliar atau turun US$ 0,3 miliar dibandingkan bulan sebelumnya.
"Sebagaimana kita ketahui, pada Agustus, cadev mencapai US$ 150,2 miliar, ini adalah rekor tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka, perkembangan cadev tersebut antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah," kata dia kepada kepada Investortrust, Senin (7/10/2024).
Baca Juga
Faktor lain yang menjadi beban kinerja mata uang Garuda, kata Nanang, adalah aset safe haven seiring dengan ketidakstabilan geopolitik global. Ia menjelaskan, khususnya konflik politik di kawasan Timur Tengah, di mana kondisi ini memaksa meluasnya sengketa politik antara pihak yang berserteru sehingga nantinya turut mempengaruhi pasar keuangan global.
Kemudian dia mengungkap perburuan dolar belakangan meningkat seiring membaiknya serangkaian data ketenagakerjaan Amerika pasca rilis data non farm payroll (NFP) yang melonjak 254 ribu. Sedangkan angka tingkat pengangguran pun menyusut sebesar 4.1%. Menurut dia hal ini mendorong banyak kalangan bahwa ruang pelonggaran The Fed pada pertemuan November akan berkurang, di mana pemangkasan bisa hanya 25 basis poin.
Baca Juga
Kurs Rupiah Bergejolak, BI Telat Rilis Indikator Stabilitas Nilai Tukar
"Pasar pun akan mencermati data inflasi konsumen dan produsen Amerika yang dijadwalkan rilis pekan ini, ekspektasi adanya penurunan dari laju inflasi," sebut dia.

