Rupiah Ditutup Menguat Usai BI Umumkan Cadev Indonesia Meningkat
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan Senin (14/4/2025) tepat setelah Bank Indonesia (BI) umumkan posisi cadangan devisa meningkat. Berdasarkan data Jisdor BI, kurs rupiah menguat 32 poin (0,19%) ke level Rp 16.773 per dolar AS, yang pada penutupan perdagangan terakhir melemah di posisi Rp 16.805 per dolar AS.
Pada perdagangan pasar spot kurs rupiah turut bergerak menguat terhadap dolar AS. Berdasarkan data Yahoo Finance, kurs rupiah bergerak menguat 20 poin (0,12%) ke level Rp 16.769 per dolar AS. Diketahui dalam penutupan perdagangan terakhir Yahoo Finance mencatat kurs rupiah ditutup melemah di posisi Rp 16.789 per dolar AS.
Diberitakan BI telah mengumumkan posisi cadangan devisa (cadev) pada akhir Maret 2025 tercatat sebesar US$ 157,1 miliar. Berdasarkan data BI, angka tersebut meningkat dibandingkan posisi pada akhir Februari 2025 yang sebesar US$ 154,5 miliar.
Baca Juga
Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro menjelaskan, sentimen terhadap pasar domestik diperkirakan tetap mixed, dengan dukungan dari posisi cadev yang meningkat dan ekspektasi pemangkasan suku bunga BI Rate di semester II/2025. Namun, volatilitas nilai tukar Rupiah tetap perlu diwaspadai, terutama bila ketegangan global terus memburuk.
"Fokus pasar dalam waktu dekat akan tertuju pada rilis data neraca perdagangan Maret 2025 yang akan dirilis pekan depan dan perkembangan diplomasi dagang antara Indonesia dan mitra utamanya," katanya dalam laporan tertulis, Senin (14/4/2025).
Baca Juga
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.805 per Dolar AS, Simak Sentimennya!
Sementara itu, pasar global dibuka hati-hati pada awal pekan ini di tengah kekhawatiran terhadap tensi perdagangan AS-China yang terus meningkat setelah Presiden Trump mengumumkan kenaikan tarif tambahan terhadap produk Tiongkok yang dibalas dengan kenaikan tarif China kepada AS sebesar 125%. Kenaikan tarif ini memperbesar risiko perlambatan ekonomi global, memicu arus masuk ke aset safe haven seperti emas dan Franc Swiss yang dinilai lebih stabil.
"Investor akan mencermati perkembangan negosiasi perdagangan, serta potensi respons balasan baik dari Tiongkok maupun AS dalam beberapa hari ke depan," ungkap Andry.

