Meski Cadev RI Meningkat, Ancaman Tarif Trump Bikin Rupiah Melemah
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Nilai tukar (kurs) rupiah tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang perdagangan hari Senin (7/7/2025) ini. Jisdor Bank Indonesia (BI) mencatat kurs rupiah melemah 33 poin (0,20%) ke level Rp 16.204 per dolar AS, yang pada perdagangan Jumat (4/7/2025) lalu berada di posisi Rp 16.204 per dolar AS.
Sedangkan pada pasar spot, data Bloomberg hingga pukul 15.50 WIB menunjukkan kurs rupiah bergerak merosot 54 poin (0,34%) ke level Rp 16.239 per dolar AS.
Rilis meningkatnya posisi cadangan devisa oleh BI tidak mampu mengatrol pergerakan kurs rupiah pada hari ini. Adapun cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2025 tercatat sebesar US$ 152,6 miliar, mengalami sedikit peningkatan dibandingkan posisi akhir Mei 2025 yang sebesar US$ 152,5 miliar.
Kenaikan tersebut bersumber dari penerimaan pajak dan jasa, serta penerbitan global bond pemerintah yang berhasil menambah devisa negara. Di sisi lain, Bank Indonesia tetap aktif menjalankan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.
Baca Juga
Jelang Tenggat Kesepakatan Tarif Trump, Dolar AS Tekan Rupiah Awal Pekan Ini
Merosotnya nilai tukar rupiah pada hari ini, menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, tidak lepas dari ancaman penambahan tarif impor oleh Presiden AS Donald Trump. Sebelumnya Trump mengatakan mereka akan mulai mengirim surat ke negara-negara pada hari Jumat, menjelang batas waktu negosiasi tarif impor pada 9 Juli 2025.
Ia mengumumkan beberapa tarif yang dikenakan akan berada dalam kisaran 10% hingga 70% dan akan berlaku pada tanggal 1 Agustus 2025. Trump menambahkan negara-negara yang berpihak pada blok BRICS akan menghadapi tarif tambahan 10% atas praktik mereka yang diduga anti-Amerika.
Sebelumnya pada akhir pekan, Trump mengatakan AS hampir mencapai beberapa perjanjian perdagangan, dengan tarif baru yang akan mulai berlaku pada tanggal 1 Agustus. Pada bulan April, Trump memberlakukan tarif dasar sebesar 10% pada sebagian besar negara, dengan bea tambahan mencapai hingga 50%. Namun, pada hari Jumat, ia mengatakan tarif tersebut bisa mencapai 70%.
"Perpanjangan tiga minggu ini memberi negara lain lebih banyak waktu untuk mencapai kesepakatan dengan AS, tetapi kurangnya rincian membuat investor merasa khawatir," tulis Ibrahim dalam keterangannya, Senin (7/7/2025).
Sementara itu titik dukungan terbesar dolar adalah penurunan tajam dalam ekspektasi Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada dua pertemuan berikutnya. Hal ini terutama didorong oleh pembacaan penggajian yang kuat pada hari Kamis, yang menunjukkan pasar tenaga kerja tetap tangguh meskipun ada hambatan ekonomi lainnya.
"Para pedagang terlihat sebagian besar menghapus taruhan untuk pemotongan suku bunga Juli oleh Fed, dan juga terlihat meningkatkan taruhan bahwa Fed akan bertahan pada bulan September, CME Fedwatch menunjukkan," ungkap Ibrahim.
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka itu menambahkan, pekan ini fokus pasar pada rilis notulen rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) terbaru yang akan dirilis hari Rabu (Kamis pukul 01.00 WIB).

