Pecahkan Rekor Cadev hingga Sinyal Negosiasi dengan Trump, Rupiah Diprediksi lanjut Menguat
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah catatkan pergerakan positif usai ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan Senin (14/4/2025). Berdasarkan data Jisdor Bank Indonesia (BI), kurs rupiah menguat 32 poin (0,19%) ke level Rp16.773 per dolar AS, yang pada penutupan perdagangan terakhir melemah di posisi Rp16.805 per dolar AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah bakal melanjutkan tren menguat terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (15/4/2025) besok.
"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp16.740 - Rp16.790 per dolar AS," kata Ibrahim dalam laporan tertulis, Senin (14/4/2025).
Ibrahim menjelaskan, selera risiko membaik setelah Gedung Putih pada akhir pekan lalu mengonfirmasi bahwa barang elektronik tidak akan dimasukkan dalam tarif 145%, termasuk produk serupa dari China. Kebijakan ini sempat memberikan sedikit kelegaan bagi perusahaan-perusahaan besar AS dengan eksposur impor yang besar dari China.
Tetapi Trump meremehkan gagasan ini, dengan menyatakan bahwa impor elektronik masih akan menghadapi pungutan sebesar 20%, dan bahwa ia sedang bersiap untuk segera mengumumkan tarif impor terpisah untuk barang elektronik.
"Komentar Trump membuat investor waspada terhadap tarif lebih lanjut, terutama karena Tiongkok dan AS terlibat dalam perang tarif yang sengit pekan lalu. Beijing mengumumkan tarif balasan 125% terhadap AS atas langkah terbaru Trump," ungkap Ibrahim.
Baca Juga
Rupiah Ditutup Menguat Usai BI Umumkan Cadev Indonesia Meningkat
Namun, perang dagang yang mengerikan antara ekonomi terbesar dunia ini diperkirakan akan mengguncang rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi, dengan para pedagang memperkirakan setidaknya 50% potensi resesi akan terjadi di AS tahun ini.
Di sisi lain Ibrahim mengungkap sentimen positif yang datang dari dalam negeri menjadi faktor menguatnya nilai tukar rupiah di perdagangan spot sepanjang hari ini. Di antaranya seperti rilis bank sentral yang mengumumkan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia per Maret 2025 yang meningkat menembus rekor sepanjang masa.
Kemudian, lanjut Ibrahim, langkah-langkah diplomasi yang mulai ditempuh oleh Presiden Prabowo Subianto serta pernyataan dari para menteri menunjukkan sinyal positif dalam merespons perubahan global. Kepentingan nasional menurut Presiden tetap harus menjadi prioritas utama. Indonesia harus memastikan bahwa setiap langkah kebijakan luar negeri selaras dengan upaya memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
"Namun Indonesia harus bersiap menghadapi dinamika global akibat ketegangan perdagangan antara AS dan China yang dinilai berpotensi besar terhadap perekonomian indonesia, tidak hanya melalui diplomasi, tetapi juga dengan memperkuat fondasi ekonomi dalam negeri," ujar Ibrahim.
Menurut Ibrahim, salah satu skenario yang harus diwaspadai adalah masuknya barang-barang asal China ke pasar Indonesia sebagai dampak dari pembatasan pasar di AS. Hal tersebut bisa terjadi jika sistem pengawasan perdagangan Indonesia belum siap atau longgar, sehingga mengancam industri dalam negeri.
Bank Indonesia Umumkan Posisi Cadev RI US$157,1 Miliar per Maret 2025
Bank Indonesia (BI) mengumumkan posisi cadangan devisa (cadev) pada akhir Maret 2025 tercatat sebesar US$157,1 miliar. Berdasarkan data BI, angka tersebut meningkat dibandingkan posisi pada akhir Februari 2025 yang sebesar US$154,5 miliar.
Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, kenaikan posisi cadev tersebut antara lain bersumber dari penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah di tengah kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah. Hal ini, kata dia, sebagai respons Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.
Baca Juga
Dijelaskan oleh BI, posisi cadev pada akhir Maret 2025 setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor atau 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
"Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," kata Ramdan Denny dalam keterangan tertulis, Senin (14/4/2025).
Pemerintah Pastikan RI Negosiasi Tarif Impor AS
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjadi salah satu negara yang akan menjalani negosiasi tarif impor dengan Amerika Serikat (AS).
“Indonesia adalah salah satu negara yang mendapat kesempatan pertama untuk diundang ke Washington DC,” kata Airlangga seusai menggelar rapat koordinasi teknis terbatas, di kantornya di Jakarta, Senin (14/4/2025).
Airlangga mengatakan, undangan negosiasi ini muncul berdasarkan surat yang sudah disampaikan Pemerintah Indonesia. Tiga kementerian AS yang akan dijadikan target negosiasi, yakni Kementerian Keuangan AS, Kementerian Perdagangan AS, dan Kementerian Sekretariat Negara AS. “Kami sudah bersurat, arahan Bapak Presiden, kita bersurat kepada tiga kementerian,” ujar dia.
Baca Juga
Airlangga: Indonesia dapat Giliran Pertama Negosiasi Tarif Impor AS, Hari InI Menlu Berangkat
Proses negosiasi ini dilakukan untuk menemui sejumlah pejabat tinggi AS, di antaranya Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, Menteri Sekretariat Negara AS Marco Rubio, dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent.
Airlangga akan memimpin rombongan negosiasi yang akan berlangsung pada 16-23 April 2025. Tim yang akan membantu negosiasi adalah Menteri Luar Negeri Sugiono, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu, Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono.
“Hari ini Pak Menlu akan berangkat ke Washington DC. Kemudian, besok, saya dan Bu Mari akan berangkat. Selain dengan Pak Thomas Djiwandono, Pak Wamelu juga akan berangkat,” kata dia.

