BI Sebut Pemilu dan Kenaikan Gaji ASN Dorong Pertumbuhan Ekonomi RI 2024
JAKARTA, investortrust.id – Bank Indonesia (BI) memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh dalam kisaran 4,5-5,3% pada 2023 dan meningkat pada 2024.
Berlanjutnya perbaikan kinerja perekonomian pada tahun 2024 terutama didorong oleh permintaan domestik sejalan dengan kenaikan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN), penyelenggaraan pemilu, dan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN).
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan, BI mendukung pertumbuhan ekonomi, khususnya dari sisi permintaan, dengan terus meningkatkan stimulus kebijakan makroprudensial dan akselerasi digitalisasi sistem pembayaran, dengan sinergitas kebijakan fiskal Pemerintah yang semakin erat.
Baca Juga
BI Prediksi Ekonomi Global Tumbuh 2,9% Tahun Ini dan 2,8% 2024
Asumsi tentang pertumbuhan ekonomi tersebut disampaikan Perry Warjiyo usai Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang berlangsung 18-19 Oktober 2023. Dalam RDG tersebut BI memutuskan menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,75%
Sementara terkait proyeksi 2023, BI optimistis ekonomi Indonesia berdaya tahan terhadap rambatan ketidakpastian global yang sedang terjadi. Tercermin dari pertumbuhan ekonomi kuartal III-2023 yang tetap baik.
“Pada triwulan III 2023, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh konsumsi swasta, termasuk konsumsi generasi muda, yang meningkat sejalan peningkatan konsumsi di sektor jasa dan keyakinan konsumen yang masih tinggi,” urai Perry dalam keterangan tertulis, Kamis (19/10/2023).
Lebih lanjut dikatakan, pertumbuhan investasi tetap baik didorong berlanjutnya penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN). Sementara itu, pertumbuhan riil ekspor barang menurun seiring pelemahan permintaan dari negara mitra dagang utama, terutama Tiongkok, dan penurunan harga komoditas.
Sedangkan ekspor jasa tetap tumbuh tinggi sejalan dengan kenaikan jumlah wisatawan mancanegara. Secara spasial, pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi di Sulampua, Kalimantan, dan Jawa.
Inflasi Terkendali
Dalam kesempatan tersebut BI memastikan inflasi domestik dalam kondisi terkendali, di mana Inflasi IHK September 2023 tercatat 2,28% (yoy), lebih rendah dari inflasi IHK bulan sebelumnya sebesar 3,27% (yoy).
Penurunan inflasi ini didukung oleh inflasi inti yang menurun menjadi 2,00% (yoy) dan inflasi kelompok administered prices yang juga lebih rendah menjadi 1,99% (yoy).
Baca Juga
Stabilkan Nilai Tukar Rupiah, BI Naikkan BI7DRR Sebesar 25 Bps
Sementara itu, kelompok volatile food mencatat inflasi sebesar 3,62% (yoy), meningkat dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 2,42% (yoy), sejalan dengan kenaikan harga beras dan daging sapi. Inflasi yang terjaga merupakan hasil nyata dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah (Pusat dan Daerah) dalam TPIP dan TPID melalui penguatan GNPIP di berbagai daerah.
“Ke depan, Bank Indonesia terus mencermati sejumlah risiko yang dapat menimbulkan tekanan terhadap tetap terkendalinya inflasi, termasuk dampak kenaikan harga energi dan pangan global serta tekanan depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap imported inflation,’’ imbuhnya.
Untuk itu kata Perry, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan mempererat sinergi dengan Pemerintah (Pusat dan Daerah) untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam kisaran 3,0±1% pada 2023 dan 2,5±1% pada 2024.

