Sinarmas Sekuritas Proyeksikan Yield SBN 10 Tahun Capai 6,7%
JAKARTA, investortrust.id – Sinarmas Sekuritas memproyeksikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun dapat mencapai 6,7% pada akhir 2024. Level ini naik dari yield SBN 10 tahun yang saat ini berada di tingkat 6,64%.
“Dari kami, yield SBN 10 tahun itu mungkin di kisaran 6,7%. Ini juga terpengaruh spread dari yield US Treasury yang akan turun bila ada cut rate (penurunan suku bunga The Fed) pertengahan tahun ini,” ujar Head of Fixed Income Research Sinarmas Sekuritas Aryo Perbongso dalam Bond Market Update, Tantangan & Prospek: Analisis Pasar Obligasi & Ekuitas Indonesia, Jakarta Kamis (14/3/2024).
Baca Juga
Pelaku pasar mengekspektasi The Fed akan menurunkan suku bunga sebanyak tiga kali tahun ini. Secara historis, saat Fed Funds Rate (FFR) dipangkas pada 2019, tren yield US Treasury dan SBN 10 tahun ikut menurun. Namun, hal ini turut ditopang penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) sebanyak empat kali dalam periode yang sama.
Oleh karena itu, Sinarmas Sekuritas memprediksikan yield SBN 10 tahun bisa turun sekitar 50 bps, saat FFR dipangkas dan spread SBN dengan US Treasury berada pada kisaran 230-250 basis points (bps). “Namun dilihat dari sisi gross bond supply, diprediksi pada tahun pemilu secara expenditure mungkin di kisaran 93%. Artinya budget deficit sekitar 1,7% dari GDP (PDB), membuat suplai obligasi berkurang sekitar Rp 1,2 triliun ke Rp 900 triliun,” sambung Aryo.
Baca Juga
Permintaan Investor Asing Melemah
Meski banyak analisis mendorong yield SBN untuk turun, Sinarmas Sekuritas tetap memprediksikan peningkatan yield SBN 10 tahun ke level 6,7%. Hal ini disebabkan permintaan investor asing yang melemah sekitar 15% terhadap SBN Indonesia, akibat penerbitan US Treasury yang cukup besar.
Alasan kedua, pembeli obligasi dari sektor perbankan diperkirakan akan menjual SBN untuk memenuhi likuiditas. Ini demi mengimbangi pertumbuhan permintaan kredit.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, hingga 8 Maret 2023, nilai kepemilikan asing dalam SBN mencapai Rp 1.054 triliun. Porsinya mencapai sekitar 18,2% dari total SBN.
.
Sedangkan yang mendominasi kepemilikan SBN adalah perbankan, sebanyak 25,38%, institusi negara yakni Bank Indonesia 21,09%, serta asuransi dan dana pensiun 18,32%. Nilainya masing-masing Rp 1.470 triliun, Rp 1.221 triliun, dan Rp 1.061 triliun.

