Pemerintah Harus Atasi Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi
JAKARTA, investortrust.id - Pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,03% pada 2024 menunjukkan terjadi perlambatan pertumbuhan dibanding tahun sebelumnya, yang masih sebesar 5,05%. Jika tidak segera diatasi, perlambatan ekonomi ini akan menjadi penghalang target pertumbuhan ekonomi yang dibuat Presiden Prabowo Subianto sebesar 8%.
“Kalau kita hanya tumbuh 5%-an, sudah pasti 2045, wasalam ya Indonesia Emas,” kata Direktur Big Data Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto saat diskusi bertema "Pertumbuhan Melambat, Anggaran Mengetat", yang digelar daring, Kamis (6/2/2025).
Baca Juga
Kurang Penciptaan Lapangan Kerja
Eko mengatakan masalah utama pada perlambatan ekonomi 2024 yaitu tidak terjadi penciptaan lapangan kerja yang memadai. Tanpa adanya penciptaan lapangan kerja yang masif dan berkualitas, peluang untuk melepaskan dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap) akan pupus.
Secara sederhana, Eko menggambarkan penciptaan lapangan kerja akan mendorong sisi konsumsi masyarakat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga berkontribusi terbesar bagi Produk Domestik Bruto sebesar 53,71%, terbesar di antara komponen lainnya. Namun, pertumbuhannya 4,98%, lebih rendah dari pertumbuhan nasional.
“Masyarakat bisa merasakan sulitnya mencari lapangan kerja. Tanpa pekerjaan, dompet masyarakat tak terisi dan membuat daya beli nggak ada,” ucap dia.
Baca Juga
Jangan Hanya MBG
Untuk itu, Eko berharap efisiensi yang dilakukan Presiden Prabowo Subinato di awal tahun ini dapat diarahkan ke sektor produktif. Anggaran dari hasil efisiensi tersebut tidak cukup hanya diletakkan ke program makan bergizi gratis (MBG).
“Ciptakan lapangan kerja, baik yang bisa distimulasi APBN maupun iklim investasi. Ini karena penciptaan lapangan kerja mendorong produktivitas,” ujar dia.
Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef Riza Annisa Pujarama mengatakan, tiga sektor dapat menerima dana dari realokasi anggaran yaitu sektor pertanian, industri pengolahan, dan perdagangan. Tiga sektor tersebut mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak dan memiliki share besar terhadap PDB.
“Dari situ, produktivitas meningkat dan multiplier effect-nya juga ada,” kata Riza.
Data BPS menunjukkan, sektor pertanian menjadi salah satu pembentuk PDB yang besar, mencapai 12,61%. Meski demikian, pertumbuhan sektor ini pada 2024 berada di angka 0,67% secara kumulatif.
Sementara, sektor industri pengolahan mampu tumbuh 4,43% pada 2024. Sektor ini memiliki share terhadap PDB sebesar 18,98% atau terbesar dari antara sektor-sektor lainnya.
Sementara itu, sektor perdagangan tumbuh 4,86% dan juga menjadi bagian pembentuk PDB yang besar mencapai 13,07%. “Proporsi pelaku UMKM kebanyakan di situ dan proporsi mikro kecil itu sangat besar, sehingga perlu didorong. Jargon UMKM naik kelas itu perlu direalisasikan,” ucap dia.

