Strategi Baru BRI Atasi Perlambatan Bisnis UMKM
JAKARTA, investortrust.id – Aktivitas bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah bawah sedang mengalami perlambatan. Kondisi ini berbeda dengan kegiatan korporasi atau skala menengah-besar yang cenderung meningkat.
Fenomena itu sesuai dengan hasil survei kegiatan dunia usaha (SKDU) Bank Indonesia, yang menunjukkan bahwa perbankan mendorong ekspansi penyaluran kredit sektor korporasi.
Indeks kondisi likuiditas perusahaan menengah dan besar cenderung naik. Sebaliknya tren pendanaan atau kemampuan likuiditas UMKM menurun. Kemudian, indeks yang mengukur kemampuan setiap laba usaha besar cenderung kuat atau punya kekuatan untuk menghasilkan laba. Lagi-lagi, hal sebaliknya terjadi pada hasil survei di UMKM.
Karena alasan itulah, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) membuat strategi baru, dengan mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lewat penyaluran kredit korporasi atau usaha skala menengah dan besar yang memiliki kaitan erat dengan UMKM.
“Sebab, jika perbankan termasuk BRI memaksakan diri untuk meningkatkan penyaluran kredit ke UMKM secara signifikan, bank berpotensi menghadapi kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL). Maka kami sedikit menggeser pertumbuhan kredit ke korporasi yang memiliki hubungan kuat value chain ke UMKM,” ungkap Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), Sunarso, pada acara Halal Bihalal dengan Pemimpin Redaksi di Jakarta, Jumat (26/4/2024).
Strategi tersebut diyakini dapat menjaga arus rantai pasok, termasuk kelancaran proses pembayaran. Contohnya proses pertukaran barang dan jasa dari korporasi ke UMKM, sekaligus proses pembayaran dari korporasi ke UMKM.
“Supaya kemampuan likuiditas perusahaan besar menengah dapat mengatrol yang kecil (UMKM). Bank bisa berperan penting di sini dalam memberikan proporsi menumbuhkan kredit di masing-masing segmen secara benar,” tegas Sunarso.
Dia menambahkan, elastisitas determinan pertumbuhan kredit UMKM ditentukan oleh dua hal, yakni konsumsi rumah tangga dan pendapatan kelas menengah ke bawah.“Makanya pertumbuhan kredit kita pada kuartal pertama, mungkin sampai dua bulan ke depan, penentunya adalah formula ini, yakni konsumsi rumah tangga dan daya beli kalangan menengah bawah,” sambung Sunarso.
Sunarso berpendapat bahwa tantangan saat ini adalah meningkatkan daya beli untuk mendongkrak konsumsi rumah tangga. Oleh sebab itu, ketersediaan lapangan pekerjaan memiliki peranan sentral dalam menjaga stabilitas daya beli.
Business Follow Stimulus
Sebelumnya, Sunarso menyatakan bahwa ketika Indonesia dilanda pandemi Covid-19, BRI mengambil langkah strategis untuk tetap mempertahankan kesinambungan kinerja dan berperan aktif dalam mendukung program pemerintah, yakni Penanganan Covid dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PC-PEN). Ketika itu, UMKM banyak mendapat stimulus pemerintah.
Atas dasar itu, BRI berusaha menyelamatkan UMKM yang tertekan pandemi lewat strategi business follows stimulus. Agar stimulus berjalan efektif, BRI menyiapkan empat syarat. Pertama, harus ada ketersediaan dana atau anggaran. Kedua, data pihak yang mendapatkan stimulus harus tersedia dan akurat. Ketiga, menyiapkan sistem yang kredibel dan reliable agar stimulus tepat sasaran. Keempat, adalah komunikasi secara terus menerus kepada masyarakat.
Ketika pandemi Covid tahun 2020-2021, pemerintah banyak membanjiri stimulus, termasuk untuk UMKM. Di antaranya adalah perluasan modal kerja darurat yang disalurkan melalui kredit usaha rakyat (KUR). Bagi UMKM yang belum memiliki rekening perbankan, penyaluran pembiayan dapat dilakukan melalui program ultra mikro Mekaar PNM maupun skema lainnya.
Stimulus lainnya adalah pemberian subsidi bunga/subsidi margin bagi debitur KUR dan non-KUR yang diberikan selama 6 bulan pada 2020 dan 12 bulan penuh selama 2021. UMKM juga termasuk sektor yang mendapat relaksasi restrukturisasi kredit, yang baru berakhir Maret 2024 lalu.
Likuiditas vs Suku Bunga Tinggi
Lebih lanjut Sunarso mengatakan, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,25% pada Rabu (24/4/2024) lalu menjadi tantangan baru. Apalagi di level global terdapat ketidakpastian penurunan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) yang menyebabkan ekonomi global terombang-ambing.
Di lain sisi, terdapat masalah ketersediaan pangan sebagai dampak El-Nino yang membuat musim tanam dan panen mundur. Volatilitas harga pangan pun terjadi dan berdampak terhadap inflasi.
Sedangkan di dalam negeri, Pemilu tahun 2024 tidak berdampak sıgnifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal itu berbeda dengan Pemilu 2019 maupun pemilu-pemilu sebelumnya yang mengkontribusi sekitar 0,3%-0,4% terhadap pertumbuhan PDB.
Alhasil, inflasi yang tinggi menyebabkan rencana penurunan suku bunga The Fed pada awal kuartal III atau semester II 2024 menjadi tidak lagi jelas. Sebaliknya, ada kemungkinan The Fed dan bank sentral negara lain justru menaikkan suku bunga acuan.
Meski demikian, Sunarso berharap era suku bunga tinggi dapat berakhir di semester II 2024. “Kita berharap seperti prediksi semula ya, tapi sepertinya berat apabila melihat potensi. Dan kami optimistis suku bunga tinggi akan mereda,” ucap Sunarso.
Sunarso menilai, langkah BI menaikkan suku bunga 25 bps adalah keputusan yang logis dan rasional demi stabilitas inflasi dan nilai tukar. Perbankan pun akan mengikuti rasionalitas yang ditempuh BI untuk berperan mengendalikan inflasi dan nilai tukar. Tapi, tantangan yang kemudian dihadapi perbankan adalah menjaga likuiditas di tengah kenaikan suku bunga.
“Dampaknya, kita memikul beban dari gejolak ini. Ya dipikul rame-rame. Bank harus bersusah payah untuk mempertahankan likuditasnya,” kata Sunarso.
Namun, Sunarso menjamin, likuiditas tidak menjadi persoalan bagi BRI. Dengan rasio loan to deposit (LDR) di posisi 83,28% dan capital adequacy ratio (CAR) 23,97% per Maret 2024, BRI masih mempunyai ruang untuk terus melakukan ekspansi kredit.
“Jadi kenaikan suku bunga adalah keputusan logis dan rasional. Tapi menyebabkan tantangan di likuiditas. Tapi bagi BRI dengan LDR 83,28%, kami biasanya saja. Kami pasti akan mempertahankan rasio likuiditas dengan sehat, bukan berarti mengerem kredit,” paparnya.
Sunarso menegaskan, BRI harus mempertahankan pertumbuhan kredit di level double digit, meskipun BI Rate naik 25 bps.
Catur Budi Harto optimistis BRI dapat menyalurkan kredit dengan baik dan berkelanjutan selama era suku bunga tinggi. Hal ini didukung oleh kondisi permodalan BRI yang kuat, yakni CAR 23,97% dan LDR 83,28%.
"Dengan kondisi likuiditas dan permodalan yang memadai tersebut perseroan masih memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh lebih baik lagi," ujar Catur, seraya menambahkan bahwa BRI menargetkan pertumbuhan kredit UMKM sebesar 11%-12%.
Kinerja Keuangan Q124
Meski atmosfer global tidak bersahabat, pada kuartal I-2024 (Q124), BRI berhasil mencetak laba konsolidasi sebesar Rp 15,98 triliun atau naik 2,5% dibanding periode yang sama tahun lalu. Di tengah ketatnya likuiditas perbankan nasional sebagai dampak dari era suku bunga tinggi, BRI berhasil menjaga rasio likuiditas pada level yang memadai, dengan LDR (Loan to Deposit Ratio) sebesar 83,28%.
Sunarso tetap optimistis dengan kinerja emiten dengan kode saham BBRI itu ke depan. “Perseroan melihat kondisi ekonomi nasional saat ini memiliki daya tahan terhadap stabilitas ekonomi global. BRI berkomitmen untuk mendukung program program pemerintah yang mendukung pertumbuhan ekonomi dalam negeri,” imbuh Sunarso.
Salah satu bentuk komitmen BRI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional adalah dengan tetap mendorong penciptaan lapangan pekerjaan khususnya pada segmen UMKM. Caranya dengan mendorong penyaluran kredit berkualitas.
Dari sisi liabilitas, perseroan mampu menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp 1.416,21 triliun atau tumbuh 12,80% yoy hingga akhir Maret 2024. Dana murah (CASA atau Current Account Savings Account) masih mendominasi portofolio simpanan dengan pertumbuhan 7,80% (yoy).Pertumbuhan CASA ini tak lepas dari aspirasi BRI untuk melakukan transformasi liabilitas melalui penguatan basis pendanaan dengan fokus pada low cost funding dari CASA yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Pendapatan nonbunga atau Fee Based Income (FBI) yang tumbuh 6,92% menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan laba BRI. Salah satu penopang kinerja FBI adalah kontribusi super apps BRImo. Hingga akhir Maret 2024, BRImo telah memiliki 33,5 juta user atau tumbuh 30,3% (yoy).
“Dalam 3 bulan, BRImo berhasil memproses 969 juta transaksi finansial dengan volume transaksi mencapai Rp 1.251 triliun atau tumbuh 41,8%,” ujar Sunarso.
Direktur Retail Funding & Distribution BRI, Andrijanto sangat optimistis di akhir tahun ini pengguna BRImo bisa menembus angka 36 juta. “Kita bisa melihat tren dari tahun ke tahun dan juga bulan ke bulan progresif yang kita lakukan terhadap user BRImo. Itu bisa tercapai karena experience yang berhasil dibangun BRImo," ujarnya.
Keberadaan AgenBRILink pun juga berkontribusi besar terhadap kinerja FBI BRI. Sepanjang Januari – Maret 2024, agen-agen tersebut berhasil mencatatkan 285 juta transaksi finansial dengan volume transaksi mencapai Rp 370 triliun serta menyumbangkan FBI senilai Rp 395 miliar. BRI memiliki total 796.836 agen yang tersebar di 61.122 desa diseluruh pelosok Indonesia.
Dari sisi operasional, perseroan mampu terus meningkatkan efisiensi operasionalnya. Hal tersebut tercermin pada rasio Cost to Income Ratio (CIR) yang terus membaik. CIR BRI pada akhir Maret 2024 tercatat 37,43% atau lebih baik dibandingkan CIR pada akhir Maret 2023 yang sebesar 41,83%.
“Dengan pijakan kinerja yang positif pada tiga bulan pertama tahun 2024 ini, BRI optimis dapat terus tumbuh secara berkelanjutan dengan mengedepankan prinsip-prinsip prudential banking, serta risk management yang baik di tengah dinamika kondisi perekonomian dan geopolitik global yang perlu dicermati. BRI akan lebih fokus merespons tantangan domestik, terutama melalui pemberdayaan UMKM,” tegas Sunarso.
NPL Terjaga
Meskipun mampu mendorong penyaluran kredit tumbuh dua digit, BRI terbukti mampu menjaga kualitas kredit. Sepanjang kuartal I-2024 tercatat rasio NPL BRI terkendali di level 3,11% dengan rasio loan at risk (LAR) yang membaik, dari 16,39% pada kuartal I-2023 menjadi 12,7% per akhir Maret 2024. Perusahaan juga mencadangkan NPL coverage sebesar 214,26%.
Wakil Dirut BRI Catur Budi Harto menambahkan, kredit segmen UMKM menunjukkan tren yang sangat baik sepanjang tiga bulan tahun 2024. Dari total kredit Rp 1.308,65 triliun per kuartal I-2024, atau tumbuh 10,89% yoy, sebesar 83,25% atau Rp 1.089,41 triliun merupakan portofolio kredit UMKM. Dengan kredit yang tumbuh double digit, aset BRI pun menjadi Rp 1.989,07 triliun atau tumbuh 9,11% yoy.
Apabila dirinci, seluruh segmen pinjaman BRI tercatat tumbuh positif, segmen mikro tercatat tumbuh 10,51% yoy menjadi Rp 622,61 triliun, segmen konsumer tumbuh 11,62% yoy menjadi Rp 193,96 triliun. Selanjutnya, segmen kecil dan menengah tumbuh 8,06% yoy menjadi Rp 272,85 triliun dan segmen korporasi tumbuh 15,1% yoy menjadi Rp 219,24 triliun.
Misteri Harga Saham
Sementara itu, pascapengumuman kinerja BRI yang masih cukup solid, saham BBRI justru tertekan. Pada penutupan Jumat (26/4/2024), BBRI turun 320 poin (6,21%) ke level Rp 4.830. Artinya, dalam sebulan terakhir saham bank pelat merah dengan laba terbesar itu terkoreksi 23,33%.
Meski demikian, Dirut BRI Sunarso menegaskan bahwa BRI tidak akan memberikan proyeksi pertumbuhan laba yang agresif pada tahun ini, sebagai upaya untuk mendongkrak harga saham.
“Apakah kalau begitu kita ubah proyeksinya menjadi lebih agresif? Saya kira jawabannya tidak, karena tidak terjamin apakah proyeksi yang agresif akan menaikkan harga saham,” jelas Sunarso.
Menurut Sunarso, langkah terpenting justru membuat proyeksi dan guidance yang realistis. Sehingga, walaupun tahap untuk mengejar proyeksi tersebut terbilang susah, pihaknya yakni target tersebut masih dapat dicapai. Di sisi lain, membuat proyeksi dan guidance yang agresif justru memiliki risiko yang tinggi.
“Saya tidak terpancing untuk membuat proyeksi pertumbuhan profi yang double digit. Apabila kita paksakan untuk tumbuh double digit, tapi market-nya tidak memungkinkan, itu berbahaya,” ujar Sunarso.
Seperti diberitakan, BRI mencetak laba konsolidasi sebesar Rp 15,98 triliun pada kuartal I-2024 atau naik 2,5% yoy. Sepanjang 2023, BRI meraih laba bersih konsolidasi Rp 60,43 triliun, melonjak 17,55% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 51,41 triliun.
Sunarno melanjutkan, apabila laba bersih tahun ini mencapai angka yang sama dengan tahun lalu, merupakan hal yang sudah baik. Sebab, dengan laba yang sama, BRI masih bisa membagikan dividen Rp 48 triliun.
Investment Analyst Lead Stockbit Rahmanto Tyas Raharja menilai, kinerja laba bersih BBRI pada kuartal I 2024 hanya mencapai 23,6% dari estimasi full year 2024 konsensus yang mencapai Rp 67,4 triliun.
Setidaknya ada dua faktor penekan saham BBRI. Pertama, tertekan beban provisi yang melonjak jadi Rp 10,7 triliun, naik 60% secara kuartalan dan 91% secara tahunan.
Faktor kedua, ditekan oleh peningkatan biaya kredit dari level 2,4% pada kuartal I-2023 menjadi 3,8% pada kuartal I-2024. Nilai itu melebihi guidance manajemen pada awal tahun yang menargetkan di kisaran 2,2%–2,3%.
Strategi 2024
Sementara itu, BRI memiliki strategi khusus untuk mendorong pertumbuhan kinerja pada 2024 ini, antara lain tetap memperkuat digital banking dan kredit usaha. Menurut Sunarso, pihaknya akan meningkatkan kemampuan pengelolaan aset dan liabilitas yang lebih produktif. Hal ini dilakukan dengan terus melanjutkan ekspansi secara selektif pada aset dengan tingkat imbal hasil yang tinggi.
BRI juga akan mendiversifikasi sumber pertumbuhan dengan mendorong perolehan pendapatan melalui penguatan kapabilitas segmen ritel, fokus integritas holding UMi, serta penguatan bisnis entitas anak sebagai sumber pertumbuhan konsolidasi. “Maka ini yang menjadi spirit kami untuk membangun holding group UMi,” katanya.
Sebagai catatan, Holding Ultra Mikro atau UMi yang terdiri dari tiga market leader dalam industrinya, yakni BRI, Pegadaian, dan PNM yang telah berjalan sejak 2021, telah berhasil melayani 37 juta debitur untuk mendapatkan akses keuangan formal. Pencapaian lain yang telah dicatatkan holding UMi adalah penyaluran pembiayaan sebesar Rp 53 triliun melalui platform digital atau cashless kepada lebih dari 8,6 juta nasabah. Holding UMi juga telah mengintegrasikan lebih dari 31 juta data untuk digunakan sebagai cross selling pemasaran.
Strategi fokus di segmen UMKM dan UMi sebagai sumber pertumbuhan baru merupakan senjata utama BRI untuk mewujudkan ambisinya menjadi “The Most Valuable Banking Group in Southeast Asia & Champion of Financial Inclusion” pada tahun 2025. (Tim investortrust.id)

