November, Asing Net Sell Saham Rp 13,63 Triliun dan SBN Rp 4,07 Triliun
JAKARTA, investortrust.id – Dana asing masih mengalir keluar dari pasar saham domestik pada Kamis (7/11/2024), dengan mencatatkan net sell Rp 1,62 triliun. Hal ini melanjutkan penjualan bersih Rp 1,14 triliun kemarin di Bursa Efek Indonesia.
Sepanjang Agustus ini, asing telah mencatatkan penjualan bersih saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) month to date senilai Rp 13,63 triliun. “Sedangkan secara year to date, asing masih mencatatkan net buy saham Rp 36 triliun,” papar BEI dalam keterangan di Jakarta pada Kamis sore.
Baca Juga
Usai Trump Dipastikan Menang, Kurs Rupiah Rebound Kamis Pagi
Ytd SBN
Sementara itu, di pasar Surat Berharga Negara (SBN), data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi kemarin. Non-resident di pasar SBN mencatatkan transaksi neto nol.
Secara month to date, asing mencatatkan penjualan bersih Rp 4,07 triliun di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan hingga kemarin. Namun, secara year to date asing masih mencatatkan pembelian bersih Rp 23,88 triliun hingga kemarin.
| Perkembangan transaksi neto oleh asing di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan, hingga 6 November 2024. Infografis: Diolah Riset Investortrust. |
Baca Juga
Rupiah Rebound
Sementara itu, rupiah dalam perdagangan di pasar spot valas ditutup rebound Kamis ini. Berdasarkan informasi kurs Jisdor yang dirilis Bank Indonesia, rupiah bergerak ke level Rp 15.767/USD sore, menguat kembali setelah anjlok kemarin usai perolehan suara pilpres Amerika Serikat memenangkan Donald Trump.
Pada 6 November 2024, nilai tukar mata uang Garuda terhadap greenback mencapai Rp 15.840/USD.
Rebound rupiah tersebut didorong pelemahan indeks dolar Amerika Serikat hari ini. Sedangkan faktor dari dalam negeri adalah menguatnya cadangan devisa Indonesia.
Neraca Modal-Finansial Diproyeksi Surplus
Bank Indonesia (BI) mencatat kenaikan cadangan devisa pemerintah Indonesia pada akhir Oktober 2024. Cadev pada akhir bulan lalu mencapai US$ 151,2 miliar atau naik 0,86% dibanding akhir September 2024.
“Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober sebesar US$ 151,2 miliar, meningkat dibandingkan akhir September 2024 sebesar US$ 149,9 miliar,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, Jakarta, Kamis (7/11/2024).
Ramdan menjelaskan kenaikan cadangan devisa tersebut berasal dari penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Cadangan devisa ini berada di atas standar kecukupan internasional atau sekitar tiga bulan impor.
“Posisi cadangan devisa pada akhir Oktober 204 setara dengan pembiayaan 6,6 bulan impor atau 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Cadangan devisa tersebut masih mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ucap dia.
Ramdan menyebut, prospek ekspor Indonesia juga tetap positif. Selain itu, neraca transaksi modal dan finansial diprakirakan tetap mencatatkan surplus.
Hal itu sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang menarik, yang mendukung tetap terjaganya ketahanan eksternal. “BI juga terus memperkuat sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal. Hal ini guna menjaga stabilitas perekonomian, dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata dia.

