Kurs Rupiah Melemah Kamis Pagi
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada Kamis (17/10/2024) pagi. Nilai tukar mata uang Garuda tercatat bergerak ke Rp 15.519/USD atau melemah 0,09%, berdasarkan data RTI pukul 09.19 WIB.
Yahoo Finance juga mencatat, nilai tukar rupiah melemah terhadap greenback. Hingga pukul 09.2i WIB, rupiah berada di level Rp 15.534/USD atau terdepresiasi 0,19%.
Baca Juga
"Sebelumnya, indeks dolar AS stabil di sekitar 103,2 pada hari Rabu, mendekati level tertingginya dalam lebih dari dua bulan. Hal itu dikarenakan ekspektasi kuat Federal Reserve akan lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga lebih lanjut," kata Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro dalam keterangan di Jakarta, Kamis (17/10/2024).
Di satu sisi, lanjut dia, Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic mengatakan pada Selasa malam bahwa ia memperkirakan hanya ada satu penurunan suku bunga sebesar 25 bps lagi tahun ini, meski perkiraan median untuk 50 bps lebih banyak. Namun, Bank Sentral AS akan mempertahankan pendekatan untuk melonggarkan kebijakan moneter yang dipandu oleh kondisi ekonomi yang berkembang.
"Sementara itu, data pada hari Selasa menunjukkan bahwa Indeks Manufaktur Empire State NY turun pada Oktober 2024, terendah dalam lima bulan," tulis Andry.
SRBI Raih Dana Rp 934,87 Triliun
Bank Indonesia (BI) mencatat, kinerja nilai tukar rupiah mengalami pelemahan sebesar 2,82 point to point (ptp) hingga 15 Oktober 2024. Pelemahan nilai tukar ini dipengaruhi ketidakpastian global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Meski demikian, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan apabila dibanding level akhir Desember 2023, nilai tukar rupiah hanya terdepresiasi sebesar 1,17%, atau lebih baik dibanding beberapa mata uang di Asia. “Rupiah lebih baik dibandingkan dengan pelemahan peso Filipina, dolar Taiwan, dan won Korea (Selatan), yang masing-masing terdepresiasi sebesar 4,25%, 4,58%, dan 5,62%,” kata Perry di gedung BI, Jakarta, Rabu (16/10/2024).
Baca Juga
Bank Indonesia Tahan BI Rate 6%, FFR Potensi Dipangkas 50 Bps Lagi
BI memperkirakan nilai tukar rupiah akan stabil sejalan dengan menariknya imbal hasil, rendahnya inflasi, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain itu, BI juga terus mengoptimalkan instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI).
Menurut Perry, posisi instrumen SRBI, SVBI, dan SUVBI hingga 14 Oktober 2024 tercatat masing-masing sebesar Rp 934,87 triliun, US$ 3,38 miliar, dan US$ 424 juta. “Penerbitan SRBI telah mendukung upaya peningkatan aliran masuk portofolio asing ke dalam negeri dan penguatan nilai tukar rupiah,” ujar dia.
Kepemilikan nonresiden dalam SRBI mencapai Rp 254,57 triliun atau 27,23% dari total outstanding. Selain itu, implementasi primary dealer sejak Mei 2024 meningkatkan transaksi SRBI di pasar sekunder dan repurchase agreement antarpelaku pasar.
Perry menyebut suku bunga pasar uang (IndONIA) bergerak di sekitar BI Rate yakni 6,16% pada 15 Oktober 2024. Sementara, suku bunga SRBI untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan tercatat masing-masing 6,69%, 6,79%, dan 6,84% per 11 Oktober 2024.
“Bunganya tetap menarik untuk mendukung aliran masuk modal asing,” kata dia.
Perry juga mengatakan, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 2 tahun menurun menjadi 6,31%. Sedangkan imbal hasil SBN tenor 10 tahun meningkat menjadi 6,67% per 15 Oktober 2024.

