Cegah Masyarakat Menengah Turun Kelas, Lapangan Kerja Layak Harus Diperbanyak
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah diminta untuk menerapkan kebijakan strategis guna mencegah penurunan lebih lanjut kelompok masyarakat menengah. Di antaranya memperbanyak lapangan kerja yang layak.
Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen Istitut Teknologi Bandung (SBM ITB) Muhammad Yorga Permana mengatakan, kelompok masyarakat kelas menengah tidak akan dapat bertumbuh tanpa adanya akses pada pekerjaan yang layak dan stabil. Sebaliknya, minimnya akses terhadap pekerjaan yang layak dapat menjadi faktor yang pemicu penurunan kelompok masyarakat kelas menengah.
Baca Juga
Dongkrak Daya Beli Kelas Menengah, Hashim: Genjot Segmen Properti dan Berantas Judi Online
"Pada akhirnya PR (pekerjaan rumah) bagi pemerintah adalah menciptakan kerja layak," kata Yorga dalam diskusi virtual bersama Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Senin (9/9/2024).
Terkait menurunnya kelompok masyarakat kelas menengah, ia menilai, saat ini, banyak angkatan kerja yang terjebak di situasi gig ekonomi. Gig ekonomi adalah sebutan untuk pekerjaan lepas atau tidak tetap. Ia mengungkap dari hasil studi, sebanyak 66% ojek online sebagai salah satu contoh gig ekonomi, menginginkan untuk bekerja menjadi pegawai ataupun buruh. "Namun mereka tetap bertahan menjadi pekerja gig, karena tidak ada pilihan kerja lain," lanjut Yorga.
Dia mengingatkan situasi tersebut merupakan ancaman lantaran pekerja gig relatif rentan, karena tidak memiliki upah bulanan serta stabilitas pendapatan. Masih berdasar studi itu, gig ekonomi merupakan fenomena urban dimana 25% ojek online serta kurir se-Indonesia terkonsentrasi di wilayah Jabodetabek dan 40% di Pulau Jawa.
Baca Juga
Kelas Menengah Turun, Ekonom BCA Ingatkan Indonesia Jangan Hanya Jadi Pasar
Bahkan sepanjang tahun 2011-2019, pertumbuhan angka lapangan pekerjaan baru ditopang oleh ekonomi gig atau sektor informal di Jakarta. Ia menyebut hampir tidak ada pekerjaan baru yang secara agregat bertumbuh di sektor formal sepanjang dekade tersebut.
"Secara agregat kita bicara Indonesia naik kelas, Indonesia emas, pertumbuhan ekonomi 6-7%, maka kuncinya adalah banyak orang yang bisa produktif dengan mendapatkan kerja yang layak," terang Yorga.
Sebagai informasi Badan Pusat Statistik (BPS) merilis jumlah masyarakat kelas menengah mengalami penurunan dalam 10 tahun terakhir. Adapun pada tahun 2019, masyarakat kelas menengah mencapai 57,33 juta. Jumlah tersebut diketahui terus menurun hingga pada 2024 yang mencapai 47,85 juta.
