Tengah Bulan, Capital Inflow Rp 19 Triliun di Saham dan SBN, Rupiah Menguat
JAKARTA, investortrust.id – Perlahan tapi pasti, asing terus mengalirkan dana ke pasar saham domestik tanpa jeda hingga hari ketujuh. Non-resident juga ramai membeli Surat Berharga Negara (SBN). Alhasil, dana asing yang masuk ke kedua instrumen pasar modal tersebut melejit menembus Rp 19,48 triliun dalam setengah bulan Agustus ini.
Net buy pada perdagangan Kamis (15/8/2024) naik menjadi Rp 0,63 triliun, dibanding kemarin Rp 0,58 triliun. Menderasnya capital inflow ini menambah akumulasi pembelian bersih saham sepanjang Agustus 2024, mencapai Rp 4,64 triliun.
“Sedangkan secara year to date, asing mencatatkan net buy saham Rp 3,60 triliun. Ini setara US$ 229,85 juta,” papar BEI dalam keterangan di Jakarta, Kamis sore.
Baca Juga
Sementara itu, di pasar Surat Berharga Negara (SBN), data terbaru yang dirilis Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) adalah transaksi kemarin. Non-resident di pasar SBN rupiah yang dapat diperdagangkan melakukan pembelian neto jumbo Rp 2,09 triliun.
Dengan demikian, secara month to date, asing sudah mencatatkan pembelian bersih Rp 14,84 triliun di SBN rupiah yang dapat diperdagangkan hingga kemarin. Hal ini mengikis akumulasi penjualan bersih SBN oleh asing year to date menjadi Rp 19,11 triliun, seiring diturunkannya suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) oleh BI.
Rupiah Masih Lanjut Menguat
Ditopang sentimen melambatnya laju inflasi Amerika Serikat dan terus mengalirnya modal asing ke pasar keuangan Indonesia, mata uang rupiah masih mampu menguat terhadap dolar Amerika Serikat dalam penutupan perdagangan Kamis (15/8/2024) sore. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, kurs rupiah menguat 4 poin ke level Rp 15.687/USD.
Baca Juga
Ia menjelaskan, para trader lebih menyukai pemangkasan yang lebih kecil, 25 basis poin oleh The Fed pada bulan September, menurut CME Fedwatch. Alat tersebut sebelumnya mengindikasikan para pedagang terbagi atas harapan pemangkasan Fed Funds Rate 25 bps dan 50 bps.Neraca Perdagangan RI Juli Surplus Tipis US$ 0,47 Miliar, Defisit Migas Naik
"Yang terakhir menyajikan prospek yang lebih baik untuk pasar logam," kata Ibrahim.
Ekspor-Impor Naik
Dari dalam negeri, hari ini, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data ekspor dan impor Juli 2024 menunjukkan kenaikan signifikan dibanding bulan sebelumnya maupun periode sama tahun lalu. Surplus neraca perdagangan barang Indonesia pada Juli 2024 tercatat sebesar US$ 0,47 miliar, yang merupakan surplus selama 51 bulan beruntun.
Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, nilai ekspor Indonesia Juli 2024 mencapai US$ 22,21 miliar. Ekspor meningkat 6,55% dibanding ekspor Juni 2024.
"Dari sepuluh komoditas dengan nilai ekspor nonmigas terbesar Juli 2024, sebagian besar komoditas mengalami peningkatan, dengan peningkatan terbesar pada bijih logam, terak, dan abu sebesar US$ 691,2 juta (3.973,44%)," ucapnya dalam Pengumuman Ekspor Impor Bulan Juli 2024, di Jakarta, Kamis (15/8/2024).
| Nilai ekspor sepuluh golongan barang nonmigas utama Juli 2024. Sumber: BPS. |
Amalia menjelaskan lebih lanjut, peningkatan ekspor Juli secara bulanan didorong ekspor nonmigas dengan komoditas penyokong utama bijih logam, terak, dan abu yang naik 3.973,44% dan memiliki andil 3,32%. Berikutnya, logam mulia dan perhiasan atau permata naik 51,11% dengan andil 1,28%, serta mesin dan perlengkapan elektrik dan bagiannya naik 14, 89% dengan andil 0,81%.
“Sementara itu, ekspor migas didorong oleh peningkatan nilai ekspor hasil minyak dengan andil sebesar 0,82%” kata dia.
Amalia menuturkan, ekspor pada Juli ini turut dipengaruhi kondisi harga komoditas energi yang naik. Hal ini karena didorong peningkatan harga minyak mentah dunia. Selain itu, terjadi kenaikan harga logam mulia, yang didominasi peningkatan harga emas.
Impor Barang Modal-Penolong Melejit
Amalia juga menjelaskan, nilai impor Indonesia Juli 2024 mencapai US$ 21,74 miliar. Impor melonjak 17,82% dibandingkan Juni 2024 atau naik 11,07% dibandingkan Juli 2023.
Dari sisi penggunaannya, impor pada Juli 2024 terbanyak adalah bahan baku penolong US$ 16,03 miliar, dengan memiliki andil 73,37% dari total impor Juli 2024. Berikutnya barang modal senilai US$ 3,64 miliar, dan barang konsumsi sebesar US$ 2,07 miliar.
"Ada kenaikan pada impor barang modal dan penolong. Impor barang penolong tercatat naik US$ 2,35 miliar atau naik 17,21% secara bulanan. Sementara, impor barang modal naik US$ 636,1 juta atau 21,21% secara bulanan. Nilai barang konsumsi naik US$ 29,8 juta atau naik 16,79% dari bulan sebelumnya," tandas Amalia.

