SRBI Dilepas, Capital Inflow Menipis ke Rp 1,62 Triliun Sepekan dan Rupiah Menguat
JAKARTA, investortrust.id – Meski modal asing masih mengalir masuk ke pasar keuangan Indonesia, namun sangat menipis pekan ini. Bank Indonesia mencatat pembelian neto (net buy) senilai Rp 1,62 triliun, anjlok dibanding pekan lalu lantaran aksi investor asing melepas Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Berdasarkan data transaksi 5-8 Agustus 2024, non-resident tercatat beli neto Rp 1,62 triliun. Ini terdiri dari beli neto Rp 2,24 triliun di pasar SBN (Surat Berharga Negara), Rp 0,65 triliun di saham, dan jual neto Rp 1,28 triliun di SRBI,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan di Jakarta, pada hari terakhir perdagangan pekan ini.
Baca Juga
Sementara itu, dalam empat hari pertama pekan lalu 29 Juli-1 Agustus 2024, non-resident di pasar keuangan domestik tercatat melakukan pembelian neto mencapai Rp 10,27 triliun. Ini terdiri dari beli neto Rp 5,77 triliun di pasar SBN, beli neto Rp 2,19 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan beli neto Rp 2,31 triliun di saham.
Kendati arus masuk modal asing anjlok, namun kurs rupiah melesat terhadap dolar Amerika Serikat dalam pekan ini. Hal itu seiring dengan pelemahan indeks dolar AS.
Demikian pula, premi credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun membaik. Per 8 Agustus 2024, CDS sebesar 76,32 bps, turun dibandingkan 2 Agustus 2024 sebesar 79,25 bps.
"Pada semester II-2024 berdasarkan data setelmen hingga 8 Agustus 2024, non-resident tercatat beli neto di SRBI sebesar Rp 44,16 triliun, di pasar SBN sebesar Rp 12,20 triliun, dan di saham sebesar Rp 0,32 triliun. Sedangkan selama tahun 2024, berdasarkan data setelmen sampai 8 Agustus 2024, non-resident tercatat jual neto Rp 21,75 triliun di pasar SBN, serta beli neto Rp 174,51 triliun di SRBI dan Rp 0,66 triliun di pasar saham," urainya.
Yield SBN Menurun
Erwin juga membeberkan kondisi perekonomian global dan domestik terkini yang menjadi indikator perkembangan stabilitas nilai rupiah. "Pada akhir hari Kamis, 8 Agustus 2024, rupiah ditutup pada level (bid) Rp 15.890 per dolar AS. Yield SBN 10 tahun turun ke 6,78%. DXY (indeks dolar AS) menguat ke level 103,22 dan yield UST (US Treasury) Note 10 tahun naik ke level 3,988%,” ujarnya.
DXY menunjukkan pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama lainnya, yakni euro (EUR), yen Jepang (JPY), pound sterling Inggris (GBP), dolar Kanada (CAD), krona Swedia (SEK), dan franc Swiss (CHF). UST merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah AS dengan tenor 1-10 tahun.
Baca Juga
Harga Emas Antam Dibandrol Rp 1.401.000 per Gram, Naik 24% Sepanjang 2024
"Sedangkan pada Jumat pagi, 9 Agustus 2024, rupiah dibuka pada level (bid) Rp 15.925 per dolar AS. Yield SBN 10 tahun turun di 6,78%,” paparnya.
Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan menjelang akhir pekan, Jumat (9/8/2024). Kurs mata uang Garuda menguat 38 poin terhadap greenback ke level Rp 15.914/USD, dibanding sebelumnya di posisi Rp 15.952/USD.
Head of Equity Research Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro menuturkan, minggu ini, rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di Asia, terapresiasi sebesar 2%. Rupiah menguat menembus di bawah level psikologis Rp 16.000 per dolar AS untuk pertama kalinya dalam tiga bulan.
Di tengah terbatasnya arus masuk modal asing ke ekuitas dan obligasi Indonesia, ia melihat penguatan rupiah itu hanya sebagai reaksi terhadap penguatan ekstrem yen. Yen terapresiasi 10% dalam sebulan, karena Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunganya, kebijakan yang sudah sangat lama tidak dilakukan.
Yen Jepang ini menyumbang 12% dari keranjang nominal effective exchange-rate (NEER) rupiah, atau terbesar kedua setelah yuan Tiongkok. Dengan kata lain, yen memiliki pengaruh yang besar terhadap fluktuasi rupiah, bahkan lebih besar dibandingkan euro, dolar AS, ataupun dolar Singapura. Ini lantaran besarnya perdagangan Indonesia dengan Jepang.

