Program Gas Murah Hanya Sampai Akhir 2025? Ini Kata Menteri ESDM
JAKARTA, investortrust.id - Pemerintah telah memutuskan untuk melanjutkan program harga gas bumi tertentu (HGBT) alias gas murah untuk sektor industri. Namun, masih belum diketahui apakah dilanjutkannya program ini hanya sampai akhir tahun 2025 saja.
Sebagai informasi, sebelum ini kebijakan HGBT sejatinya akan berakhir pada pengujung 2024. Hal itu tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Kepmen ESDM) Nomor 91 Tahun 2023.
“Itu (HGBT) terus. Sampai kapan? Lanjut saja dulu,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, saat ditanya soal sampai kapan program HGBT bakal dilanjut, Jumat (12/7/2024).
Baca Juga
KADIN Sebut Kepastian Pasokan Gas Jadi Tantangan Terbesar Program HGBT
Diketahui, saat ini hanya ada tujuh kelompok industri yang diperbolehkan mendapatkan manfaat HGBT, yakni industri pupuk, petrokimia, oleochemical, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet. Ketujuh industri tersebut bisa mendapatkan gas di bawah harga pasar, yakni senilai US$ 6 per MMBTU.
Program HGBT ini sendiri sempat dikhawatirkan akan membuat penerimaan negara berkurang. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengungkapkan bahwa negara berpotensi kehilangan pendapatan hingga US$ 1 miliar dikarenakan insentif HGBT.
Menanggapi hal tersebut, Arifin Tasrif menyebutkan bahwa ada swap antara penerimaan dan manfaat. Menurutnya, akan ada benefit dari daya saing produk yang lebih bagus akibat disokong program gas murah tersebut.
Baca Juga
Pemerintah Putuskan Program HGBT untuk 7 Sektor Industri Dilanjut
“Kan ada swap antara penerimaan dan manfaat. Produktivitas naik, budgetnya juga naik. Ya kan kita lihat benefitnya daya saing produk-produk kita bisa lebih bagus. Sehingga masuk pasar lebih accessible gitu loh,” ujar dia.
Sebelum ini, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sempat mengusulkan agar jumlah penerima HGBT bisa ditambah menjadi 24. Menanggapi hal ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa masih dilakukan kajian.
“itu akan dikaji satu per satu industrinya. Sekarang masih tujuh,” terang Airlangga.

