Cadev Naik, Rupiah Berbalik Ditutup Perkasa dan Investor 'Lepas' Dolar
JAKARTA, investortrust.id - Kurs rupiah perkasa dalam penutupan perdagangan menjelang akhir pekan ini, Jumat (5/7/2024). Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), mata uang Garuda menguat 29 poin ke level Rp 16.312/USD dibanding posisi penutupan kemarin Rp 16.341/USD.
Sebelumnya, di pagi hari, rupiah sempat melemah berdasarkan catatan Yahoo Finance. Kemudian nilai tukar rupiah berbalik arah menguat bahkan lebih tajam di pasar spot valas. Hingga pukul 16.30 WIB, rupiah terangkat 49 poin terhadap greenback ke posisi Rp 16.275/USD, setelah kemarin berada di level Rp 16.324/USD.
Research & Education Coordinator Asia Futures Nanang Wahyudin mengungkapkan, menguatnya nilai tukar rupiah selaras dengan melemahnya indeks dolar Amerika Serikat. Depresiasi dolar terjadi usai serangkaian data di negara dengan perekonomian terbesar di dunia itu menunjukkan perlambatan, baik di sektor jasa indeks manajer pembelian (PMI) maupun sejumlah variabel data ketenagakerjaan.
"Misalnya ADP (automatic data processing), Employment Change dan Jobless Claims. Terlebih lagi data NFP (non farm payrolls) yang rilis Jumat malam diproyeksikan juga mengalami penurunan," katanya kepada Investortrust.id, Jumat (5/7/2024).
Baca Juga
Pasar AS Libur, Kurs Rupiah Melemah ke Rp 16.334/USD Hari Jumat Ini
Investor Melepas Dolar
Menurut dia, hal itu memicu sikap investor untuk 'melepas' dolar. Karena, dengan melambatnya data ketenagakerjaan AS, maka ruang pemangkasan suku bunga The Fed makin terbuka. Selain itu, sejumlah kalangan The Fed memperkirakan akan melakukan pemangkasan di awal pada bulan September dan kedua, nanti di Desember.
"Bila ini didukung dengan katalis terbaru, maka ruang pelemahan dolar makin berlanjut dan rupiah pun diuntungkan," ucapnya.
Baca Juga
Cadangan Devisa Naik
Di lain sisi, analis Asia Futures itu melihat sentimen internal turut mendorong menguatnya pergerakan nilai tukar rupiah. Ia menyebut rilis BI melaporkan cadangan devisa di bulan Juni bertambah US$ 1,2 miliar menjadi US$ 140,2 miliar.
Kenaikan cadev ini disambut positif investor. Dengan besarnya cadangan devisa, maka tekanan terhadap rupiah dapat diredam atau distabilkan.
Ia menambahkan bila data tenaga kerja AS yang rilis malam ini kembali melambat, maka potensi penguatan lanjutan rupiah di awal pekan sangat terbuka. "Bahkan, bisa menuju ke Rp 16.200/USD sebagai area suppport terdekat, sementara (saat ini) resisten di Rp 16.340/USD," tutupnya.

