Menkeu Sri: Pasar Global Kecewa Akibatkan Rupiah Loyo
“Ekspektasi market yang kecewa menimbulkan reaksi. Ini terlihat pada bulan April lalu,” kata Sri Mulyani dalam acara "APBN Kita Edisi Juni 2024", Kamis (27/6/2024).
Baca Juga
Penerimaan Negara Anjlok, APBN Catat Defisit Rp 21,8 Triliun Mei
Sri Mulyani mengatakan, pelaku pasar global mengharapkan terjadi penurunan FFR sebanyak 4-5 kali, tetapi posisi suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) itu tak berubah di 5,25-5,50%. Ini disertai tanda-tanda tak diturunkannya FFR dalam waktu dekat ini.
“Optimis penurunan di tahun ini hanya satu kali,” kata dia.
Yield US Treasury Tinggi
Sementara itu, kondisi APBN Amerika Serikat yang defisit tinggi membuat US Treasury kembali mengeluarkan bond sehingga harganya jatuh, tapi secara imbal hasil atau yield mengalami kenaikan. “Yield US Treasury (tenor 10 tahun) berada di 4,25%. Ini relatif tinggi sejak April 2024,” kata dia.
Sri Mulyani mengatakan, perkembangan dari sisi pasar keuangan dan pasar global itu menjadi salah satu yang perlu diwaspadai. Sebab, dinamika yang muncul itu menyebabkan terjadi rembesan ke dalam negeri.
“Ini menyebabkan capital outflow,” ujar dia.
Baca Juga
Indeks Dolar Menguat, Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 16.414/USD Hari Ini
Dari paparannya, di Surat Berharga Negara (SBN) maupun di pasar saham dalam negeri terjadi capital outflow. Total capital outflow sampai dengan Juni ini sekitar Rp 9,3 triliun, kata Menkeu.
Selain itu, Sri Mulyani menjelaskan, ada faktor domestik yang menyebabkan melemahnya rupiah. Meski demikian, dia tak menjelaskan secara detail apa penyebab faktor tersebut pada Mei 2024.
“Rupiah mengalami depresiasi 6,58%, comparable dengan beberapa negara emerging market yang lain. Namun, juga lihat seperti Brasil, depresiasinya lebih dalam,” ujar dia.
