‘Siklus Depresi’ Akibatkan Aset Keuangan Rumah Tangga Global Turun 2.7%
JAKARTA, Investortrust.id - Turunnya harga-harga aset secara keseluruhan pada siklus “depresi berdampak pada penurunan aset keuangan global rumah tangga pribadi sebesar -2,7%. Aset-aset keuangan dimaksud termasuk uang tunai dan deposit bank, piutang usaha dari perusahaan asuransi dan institusi pengelola dana pensiun, dan sekuritas (saham, obligasi, dan dana investasi), dan piutang lainnya.
Penurunan hingga -2,7% tercatat menjadi penurunan paling tajam sejak Global Financial Crisis (GFC) pada tahun 2008 lalu. Meski demikian, kondisi tiga kelas aset utama menunjukkan pertumbuhan dan penurunan yang berbeda. Ketika terjadi penurunan pada sekuritas sebesar -7,3% dan asuransi/dana pensiun sebesar -4,6%, deposito bank justru mengalami pertumbuhan yang kuat di angka 6%.
Hal ini terungkap dalam Allianz laporan “Allianz Global Wealth Report” edisi ke-14, yang memaparkan analisis secara menyeluruh terkait kondisi aset dan hutang rumah tangga di hampir 60 negara.
Baca Juga
Secara keseluruhan, aset keuangan mengalami kerugian senilai EUR6,6 triliun, sehingga total aset keuangan tercatat senilai EUR233 triliun pada akhir tahun 2022, dimana EUR63,9 triliun atau 27% dari nilai tersebut disokong oleh rumah tangga di wilayah Asia.
Penurunan paling banyak dialami oleh Amerika Utara (-6.2%) dan kemudian diikuti oleh Eropa Barat (-4.8%). Asia, sebaliknya, masih menorehkan pertumbuhan yang cukup kuat dengan rata-rata mencapai angka 4,6% di tahun 2022.
Bahkan Jepang masih menunjukkan adanya pertumbuhan, walaupun pertumbuhannya tercatat cukup rendah (0.2%). Kondisi di negara-negara berkembang seperti Indonesia dan Filipina mencatat pertumbuhan hingga dua digit. Aset finansial di China juga terbilang kokoh dengan pertumbuhan sebesar 6,9%, namun jika dibandingkan dengan pertumbuhan di tahun sebelumnya (13,3%) dan rata-rata pertumbuhan yang telah diraih selama 20 tahun terakhir (15.9%).
Tahun ini China menunjukkan pertumbuhan yang cukup mengecewakan. Kebijakan isolasi berulang kali akibat pandemi (lockdown) tentunya memberikan dampak yang sangat besar bagi mereka.
Baca Juga
Bank Dunia Koreksi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Asia Timur-Pasifik
Terlepas dari adanya kerugian, di akhir tahun lalu aset keuangan rumah tangga global masih berada pada angka 19% di atas masa pra-COVID-19, secara nominal. Namun setelah disesuaikan dengan angka inflasi, hampir 2/3 dari tingkat pertumbuhan terkena imbas kenaikan harga yang kemudian menghambat pertumbuhan aset hingga hanya menjadi sebesar 6,6% dalam tiga tahun terakhir.
Ketika kebanyakan negara setidaknya dapat tetap mempertahankan angka pertumbuhan pada aset, Eropa Barat mengalami yang sebaliknya : keuntungan terhapus dan bahkan jumlah kekayaan menurun -2,6% dibandingkan tahun 2019.
Penurunan tersebut berbanding terbalik dengan kondisi di kawasan Asia, dengan keuntungan yang didapatkan mampu mencapai hampir 20% sepanjang tiga tahun terakhir berkat inflasi yang terkendali, termasuk di China dan Jepang.
Ludovic Subran selaku Chief Economist Allianz Group menyebutkan selama bertahun-tahun, para penabung selalu melontarkan keluhan atas bunga nol persen. Tetapi pada dasarnya musuh sejati bagi para penabung adalah inflasi, bahkan sebelum inflasi yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.
“Selama 20 tahun terakhir, tiga perempat dari nominal pertumbuhan dalam aset keuangan terkena imbas terhapus akibat dari inflasi. Hal ini menandakan pentingnya pengelolaan keuangan yang cerdas serta peningkatan literasi keuangan. Namun inflasi adalah rintangan yang sangat sulit ditaklukan. Tanpa adanya saran dari profesional untuk pengelolaan keuangan jangka panjang, maka para penabung tentunya akan mengalami kesulitan,” demikian disampaikan Subran dalam paparannya yang didistribusikan Jumat (20/10/2023).
Baca Juga
Menkop: Asia Tenggara Relevan Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Dunia
Pasca-kemerosotan di tahun 2022, lanjut Subran, aset keuangan global tentunya harus kembali bangkit pada pertumbuhan di 2023. Sejauh ini, perkembangan positif yang terjadi di pasar saham dapat mendukung optimisme ini.
Secara keseluruhan, diharapkan pertumbuhan pada aset keuangan meningkat sekitar 6%, dengan juga lebih mempertimbangkan ‘normalisasi’ dari kelanjutan perilaku menabung. Dengan tingkat inflasi global di angka 6% pada tahun 2023, para penabung seharusnya dapat terhindar dari kerugian pada aset keuangan setidaknya selama satu tahun lagi.
“Untuk prospek jangka menengah, diperkirakan masih akan muncul beragam kemungkinan,” ucap Michaela Grimm, penulis/co-author laporan ini.
“Tidak akan ada faktor penunjang moneter atau ekonomi. Rata-rata pertumbuhan diperkirakan akan berada di antara angka 4% hingga 5% dalam tiga tahun ke depan, dari asumsi rata-rata imbal hasil pasar saham. Namun seperti layaknya cuaca yang semakin ekstrem di tengah perubahan iklim, akan ada lebih banyak lagi perubahan pasar dalam lanskap geopolitik dan ekonomi yang baru. Tahun-tahun 'normal' mungkin akan menjadi pengecualian,” kata Grimm.

