Rupiah Masih Lesu, Menko Perekonomian Ungkap Penyebabnya
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terjadi antara lain karena tingkat Fed Funds Rate (FFR) yang tinggi dan perekonomian AS yang relatif baik.
Meski begitu, sentimen pasar di tingkat regional perlu dijaga agar rupiah tidak terpuruk. “Tentu faktor sentimental regional harus kita jaga,” kata Airlangga di Jakarta, Jumat (21/6/2024).
Baca Juga
Jelang Akhir Pekan, Kurs Rupiah Melemah ke Rp 16.428/USD Hari Ini
Bank Sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga acuan di level 5,25-5,50% untuk ketujuh kalinya secara berturut-turut dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC), Kamis (13/6/2024). Di pihak lain, Bank Indonesia (BI) juga menahan BI-Rate di level 6,25% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (20/6/2024).
Sementara itu, nilai tukar rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, Kamis (20/6/2024) berada di level Rp 16.420 per dolar AS, melemah dari hari sebelumnya di posisi Rp 16.368. Dalam APBN 2024, nilai tukar rupiah dipatok di level Rp 15.000 per dolar AS.
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto menjelaskan, fundamental ekonomi Indonesia sebetulnya relatif kuat. Ini terlihat pada pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif tinggi, mencapai 5,11% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I-2024.
“Kemudian inflasi juga rendah, di level 2,8% secara tahunan. Dari segi trade (neraca perdagangan) pun surplus,” ujar dia.
Menurut Airlangga, faktor fundamental lain yang menunjukkan perekonomian Indonesia kuat yaitu daya saing yang relatif tinggi dan peringkat rangking kompetitif IMD yang naik dari 34 ke 27.
“Secara fundamental, indeks keyakinan konsumen juga baik, PMI Manufaktur juga positif di atas 50, jadi fundamental kita kuat,” tegas dia.
Pemerintah, kata Airlangga, akan terus menjaga investasi ke depan untuk menjaga perekonomian nasional. Selain itu, pemerintah akan mendorong Devisa Hasil Ekspor (DHE) terjaga di dalam negeri.
“Kami minta para eksportir yang masih punya devisa di luar negeri agar devisanya dimasukkan ke dalam negeri,” tandas dia.
Baca Juga
Meski Dolar AS Terlalu Tangguh, Gubernur BI Yakin Rupiah Akan Menguat
Airlangga mengungkapkan, depresiasi rupiah terhadap mata uang lain tak akan mengganggu stabilitas keuangan pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
“Alarm itu kalau kita lihat defisit anggaran di negara-negara Uni Eropa, ini (defisit) negara Uni Eropa rata-rata 5-7%, alarm bunyinya di Eropa, bukan di Indonesia,” ujar dia.
